Puluhan Babi Mati Terserang Virus ASF, Warga Sikka Minta Bantuan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sebanyak ratusan ekor babi terutama di 3 kecamatan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mati mendadak hingga bulan Juli 2020 dengan jumlah kematian di atas 460 ekor dan banyak warga tidak melaporkannya ke Dinas Pertanian.

Peternak babi di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT, Katarina Siena saat ditemui di kantornya, Kamis (5/11/2020). Foto : Ebed de Rosary

Para peternak pun berharap agar pemerintah memberikan bantuan karena data jumlah babi milik mereka yang mengalami kematian akibat virus African Swine Fever (ASF) sudah diberikan kepada Dinas Pertanian, apalagi saat ini warga mengalami kesulitan ekonomi akibat merebaknya virus Corona.

“Jumlah babi saya yang mati sebanyak 40 ekor, baik berukuran besar maupun anak babi yang berumur satu hingga dua bulan,” sebut Katarina Siena, warga Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui Cendana News di kantornya, Kamis (5/11/2020).

Dia katakan, setelah dilaporkan ke Dinas Pertanian petugas dari kantor dinas bersama staf Kementrian Pertanian pun sempat datang ke rumahnya mengambil sampel dan melihat kondisi hewan peliharaannya.

“Semua babi yang mati dibakar lalu dikubur sesuai anjuran dari petugas Dinas Pertanian. Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba babi saya mendadak mati setelah sebelumnya babi tetangga saya mati,” ungkapnya.

Katarina mengaku hanya 6 ekor yang terdiri dari betina dan jantan dewasa bisa diselamatkan dengan cara dibawa ke hutan hingga situasi aman dan saat ini sudah dibawa kembali ke rumahnya sehingga bisa diselamatkan.

Dirinya mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah sebab harga babi berukuran besar saja bisa laku hingga Rp6 juta per ekornya sementara anak babi dijual dengan harga minimal Rp1 juta per ekornya.

“Kami dijanjikan akan mendapatkan bantuan dana dari pemerintah tetapi belum kami terima. Dengan kasus kematian babi ini kami pun terpaksa mulai dari nol lagi dan masih harus membayar hutang makanan buat babi yang masih belum dibayar,” ungkapnya.

Katarina mengaku akibat kasus kematian babi dan wabah Corona membuat ekonomi keluarganya terpuruk karena babi yang tersisa pun tidak bisa dijual karena tidak ada yang mau membelinya.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Kabupaten Sikka, Drh. Maria Margaretha Siko,mengaku terdapat sekitar 460 ekor babi lebih yang mati terserang Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

Meta sapaannya mengakui, memang saat itu pihaknya meminta melakukan pendataan dan sampai saat ini petugas pun masih melakukan pendataan untuk dikirimkan ke Kementrian Pertanian.

“Memang diminta untuk didata dan dikirim ke Kementrian Pertanian agar bisa diberikan bantuan dana untuk penguburan. Dalam waktu dekat kami akan kirimkan dan semoga ada bantuan bagi warga yang mengalami kerugian,” ungkapnya.

Lihat juga...