Rekayasa Hayati Cara Warga Lamsel Cegah Kerusakan Lingkungan DAS

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Berbagai tanaman kayu keras berjajar rapi di bantaran sungai Way Sekampung, Lampung Selatan. Meliputi waru, kelapa, mindi, akasia dan paduan tonggak dan pagar bambu yang ditujukan untuk memperkuat tanggul penangkis.

Agus, warga Dusun Bunut Selatan, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebutkan,  penggunaan bambu sebagai pagar penangkis saat musim penghujan efektif meminimalisir jebolnya tanggul.

Pada wilayah Dusun Umbul Besar sebagian warga bahkan memilih mempertahankan pohon sagu, gebang. Berbagai jenis tanaman itu mampu menahan terjangan banjir saat puncak musim penghujan.

“Rekayasa hayati untuk penanaman pohon pada daerah aliran sungai Way Sekampung telah dilakukan puluhan tahun silam, namun penebangan hutan dan alih fungsi lahan pada hulu sungai berimbas saat penghujan banjir meluap ke perkampungan dan pertambakan, imbas debit air meningkat,” terang Agus saat ditemui Cendana News, Rabu (18/11/2020).

Ekosistem sungai yang ikut menjaga bantaran sungai sebutnya berupa tanaman pandan air, mendong dan vetiver. Berbagai tanaman tersebut sangat diperlukan bagi masyarakat untuk meminimalisir kerusakan DAS Way Sekampung.

Konsep pemanfaatan tanaman sebagai pencegah kerusakan lingkungan juga dilakukan warga Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang. Rusdiantoro, pemilik tambak udang vaname dan ikan nila menyebut keberadaan tanaman waru laut, mangrove jenis api api dan kelapa mencegah terjangan air laut.

“Tanggul yang dibuat permanen tetap harus ditanami mencegah terjadinya longsor karena musim penghujan,” cetusnya.

Idi Bantara, M.Sc, Kepala BPDASHL Way Seputih Way Sekampung, Lampung saat ditemui Rabu (18/11/2020). Foto: Henk Widi

Idi Bantara, M.Sc, kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Lampung menyebut peran manusia diperlukan menjaga ekosistem. Kawasan pantai timur Lamsel dan DAS Way Sekampung bisa dicegah kerusakannya melalui pola rekayasa hayati. Konsep yang dikenal dengan nama bioengineering bisa diterapkan masyarakat.

Para petambak, petani di Ketapang dan Sragi sebutnya mengaplikasikan ilmu biologi, lingkungan dan pertanian. Efesiensi rekayasa hayati dengan pemakaian bambu, penanaman pohon akan mengurangi pengeluaran biaya.

“Memaksimalkan tanaman vetiver atau akar wangi jadi salah satu solusi penerapan rekayasa hayati di kawasan pesisir dan DAS,” tegasnya.

Penanaman bambu di bagian hulu sungai sebut Idi Bantara sangat diperlukan. Saat penghujan potensi longsor, banjir, sungai meluap bisa dicegah. Restorasi sungai dengan tekhnis rekayasa hayati akan terus dilakukan dikombinasikan dengan rehabilitasi mangrove.

Lihat juga...