Rekreasi Sembari Berburu Kerang di Pantai Labuhan Mandok

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Rekreasi ke pantai bagi warga di Bakauheni, Lampung Selatan, tidak hanya bertujuan untuk menikmati keindahan alam. Namun, juga mencari bahan makanan segar berupa kerang, ikan, anggur laut atau latu dan gurita.

Warsiem, warga Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, mengunjungi pantai Labuhan Mandok yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya. Menyusuri jalan beraspal, tanggul tambak tradisional pantai di tepian Selat Sunda menjadi tujuan.

Memperhitungkan musim angin, memasuki pekan ke dua November surut terjauh terjadi di pantai tersebut. Ia bisa berburu bahan makanan segar bersama keluarga.

Suminah (kedua dari kiri) menikmati makan bersama atau bancakan dengan lauk latuh atau anggur laut bersama sambal di pantai Labuhan Mandok, Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Minggu (8/11/2020). -Foto: Henk Widi

Menurutnya, kontur alam pantai Labuhan Mandok cukup unik, sebab berada di dekat perbukitan. Pantai yang dominan berpasir juga memiliki hamparan bebatuan hitam. Sebagai lokasi untuk rekreasi, batuan hitam yang terhampar tersebut menjadi habitat alami kerang, ikan, gurita dan anggur laut. Bagi warga, surut terjauh menjadi berkah untuk mendapat bahan makanan segar.

“Sembari rekreasi mengajak keluarga, kerap kami membawa alat masak, nasi sudah dibawa dari rumah, tapi membawa panci, kompor gas jadi pilihan sehingga bisa melakukan kegiatan memasak kerang, membakar ikan sembari menikmati suasana pantai,” terang Warsiem, saat ditemui Cendana News di pantai Labuhan Mandok, Minggu (8/11/2020).

Mengajak serta anak-anak dan cucu, berbekal peralatan sederhana ia bisa mencari kerang. Mengandalkan pisau atau sabit, ia mencongkel kerang yang menempel pada batu. Pengambilan lumai pada bebatuan karang yang berada pada cekungan menjadi bahan baku pembuatan sayur dan lalapan. Ia kerap mendapatkan belasan kilogram kerang dan latuh untuk dimasak.

Udin dan Hasan, sang cucu, memilih menggunakan galah bambu penangkap gurita. Gurita yang memiliki tentangkel menempel pada bambu yang bersembunyi pada bebatuan. Hasil tangkapan gurita akan dikumpulkan untuk dimasak menjadi sop oleh keluarganya yang berekreasi di pantai. Surut terjauh memudahkan anak-anak bisa menjangkau lokasi yang kerap tergenang air.

“Kalau sudah pasang air bisa semeter dalamnya, tapi saat surut terjauh paling dalam selutut, airnya juga jernih,” beber Udin.

Puluhan warga yang berekreasi dan menikmati suasana pantai Labuhan Mandok bisa menikmati pulau Sekepol.

Warsiman, pemilik perahu jukung bercadik, mengaku kerap mengantar wisatawan ke pulau Sekepol. Saat air surut, ia memakai perahu juking yang lebih ringan, sebab perahu ukuran besar kerap tersangkut batu karang.

Aktivitas yang bisa dilakukan di pulau Sekepol, menurut Warsiman di antaranya snorkeling dan berenang. Saat ombak tenang dan air surut pulau Sekepol dan daratan Sumatra bahkan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Namun, titik yang harus dilalui berupa karang tajam yang kerap membahayakan. Solusi terbaik wisatawan harus menggunakan perahu.

“Kegiatan memancing dan mencari kerang untuk bahan olahan juga bisa dilakukan di pulau Sekepol,” paparnya.

Mendapatkan bahan makanan berupa kerang, latuh dan ikan bisa digunakan untuk makan di tepi pantai.

Suminah, warga asal Penengahan, mengaku membawa bekal nasi lengkap dengan lauk pauk. Lalapan dari latuh atau anggur laut dipadukan dengan sambal bisa dinikmati sembari rekreasi. Air laut yang surut, aman bagi anak-anak meski, tetap dengan pengawasan orang tua.

Lihat juga...