Renograf Karya Anak Bangsa Sudah Masuk Pasar Internasional

Editor: Koko Triarko

Direktur Utama PT Sarandi Karya Nugraha Ir. Isep Gojali, saat acara online tentang Teknologi Nuklir, Jumat (20/11/2020). –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Jika dibandingkan dengan negara maju, seperti Amerika Serikat atau Jerman, mungkin industri alat kesehatan Indonesia bisa dikatakan sebagai anak bawang. Tapi tak disangka, kini Indonesia sudah mulai berkiprah pada peralatan kedokteran nuklir, yaitu Renograf.

Tujuh tahun sejak diluncurkan, hasil karya anak bangsa ini, akhirnya berhasil memasuki pasar internasional dan diakui oleh lembaga internasional, sebagai alat deteksi dini fungsi ginjal yang kompeten.

Direktur Utama PT Sarandi Karya Nugraha, Ir. Isep Gojali, menyampaikan target pemasaran memang adalah instansi kesehatan maupun instansi pendidikan riset terkait kesehatan, baik dalam dan luar negeri. Sejak diluncurkan pada 2013, tercatat selain UNICEF, sudah ada 4 negara yang menjadi target pemasaran alat renograf dan alkes lainnya hasil karya perusahaannya.

“Yaitu Saudi Arabia, Aljazair, Mauritius dan Afrika Utara. Ini sangat membanggakan bagi kami yang selalu menggunakan sumber daya manusia lokal, dan sebagian bahan baku sudah menggunakan lokal punya,” kata Isep, dalam acara online, Jumat (20/11/2020).

Ia memaparkan, bahwa Renograf hasil kerja sama perusahaannya dengan BATAN menghasilkan dua jenis Renograf, yaitu Renograf 2 Pro dan Renograf 3 Pro.

“Keduanya sudah masuk ke e-katalog dan menunggu tayang per Januari 2021. Instansi kesehatan maupun riset pendidikan bisa memilikinya dengan sistem membeli Renografnya saja, atau bisa sepaket dengan peralatan pendukung. Misalnya, sepaket dengan Dose Calibrator atau dengan Glove Box,” ucapnya.

Keberadaan Renograf yang berfungsi untuk mengetahui fungsi ginjal ini, tentunya bisa membantu masyarakat dalam melakukan tindakan deteksi dini. Sehingga, tindakan medis dapat diberikan sebelum gangguan pada ginjal memasuki tahapan kronis.

“Bagi saya, Renograf ini menjadi bukti bahwa anak bangsa bisa menciptakan alkes yang berkualitas, yang tervalidasi oleh IAEA dengan bermodalkan SDM lokal dan bahan baku lokal,” ucapnya lagi.

Selain biaya investasi yang menjadi lebih murah dan konsumsi energi yang sangat sedikit, Isep menyatakan isotop yang dipergunakan renograf sebagai tracer sudah diproduksi di dalam negeri juga.

“Dengan begitu, yang diuntungkan adalah masyarakat Indonesia sendiri. Karena bisa mendapatkan pelayanan kesehatan maksimal dengan harga yang terjangkau,” kata Isep lebih lanjut.

Dalam skup yang lebih luas, Isep menyampaikan Renograf ini bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan alkes lainnya untuk masuk dalam produk radioisotop, atau radiofarmaka dan mulai bersaing di kancah internasional.

“Memang industri masih lemah kepercayaannya terhadap produk inovasi riset, apalagi produk nuklir. Sehingga, banyak yang tidak mau. Belum ditambah dengan proses perizinan yang tidak mudah dan menghabiskan waktu yang cukup lama kalau kita mengembangkan hasil riset teknologi nuklir. Kendala juga masih muncul pada beberapa bahan baku yang masih impor,” ujarnya.

Untuk itu, ia menyatakan pentingnya kolaborasi dan kerja sama antara pemangku kepentingan dalam melakukan perencanaan dan strategi Road Map produk inovasi riset, terutama nuklir.

Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Kristedjo Kurnianto, menyebutkan BATAN selalu membuka diri pada perusahaan-perusahaan yang ingin mengembangkan prototype yang diciptakan BATAN.

“Salah satu syarat prototype itu masuk ke industri dan diterima masyarakat adalah jika lulus uji. Salah satunya uji kelistrikan dan uji EMC. Dan, memang pengujian ini membutuhkan waktu yang panjang,” ujarnya, dalam kesempatan yang sama.

Untuk ke depannya, BATAN memang merencanakan untuk membangun laboratorium penguji sendiri untuk prototype yang dihasilkan, sehingga bisa meyakinkan masyarakat dan produknya pun diterima.

“Kami terus berusaha untuk mengembangkan teknologi nuklir yang selaras dengan kebutuhan industri, termasuk juga untuk pelatihan dan perawatan terkait teknologi yang diciptakan,” pungkasnya.

Lihat juga...