Saat Pandemi, Bungkil Kelapa Primadona Ekspor Sulut ke India

Bungkil kelapa siap ekspor ke India – Foto Ant

MANADO Bungkil kelapa menjadi komoditas primadona ekspor Sulawesi Utara (Sulut) ke India, di tengah pandemi COVID-19. Terbaru ke India dikirim sebanyak 6.000 ton Bungkil Kelapa.

“Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Manado kembali melepas 6.000 ton bungkil kelapa asal Sulut ke India, dengan nilai ekonomis mencapai Rp5,4 miliar,” ujar Kepala Karantina Manado, Donny Muksydayan, Rabu (11/11/2020).

Bungkil kelapa ekspor tersebut sehat, setelah dilakukan berbagai tindakan karantina. Hal itu sebagai upaya penjaminan mutu komoditas ekspor, diikuti dengan penyerahan surat kesehatan tumbuhan atau phytosanitary certificate (PC) kepada eksportir PT Cargill.

Menurut Donni, dalam kondisi ekonomi yang melemah akibat wabah pandemi global, bungkil kelapa tetap rutin diekspor ke India. Permintaan dari negara tersebut untuk produk olahan minyak kelapa subsektor perkebunan ini tidak terus meningkat.

India, merupakan peminat bungkil kelapa Sulut paling besar dibandingkan dengan negara lain. Selain karena komoditasnya sesuai dengan yang dipersyaratkan, juga sebagian besar mata pencaharian masyarakat setempat adalah beternak, sehingga ketersediaan pakan tidak cukup memenuhi kebutuhan jumlah ternak yang sangat banyak.

Karantina Pertanian Manado mencatat, fasilitasi ekspor bungkil kelapa selama Januari hingga Oktober tahun 2020 sebanyak 100,8 ribu ton, dengan nilai ekonomis sebesar Rp276,85 miliar. Terjadi peningkatan sebanyak 14,7 persen dibanding periode sama di 2019, yang mencatatkan ekspor sebanyak 87,88 ribu ton, dengan nilai ekonomi Rp159,65 miliar.

Menurut Donni, ekspor bungkil kelapa di 2020 didominasi oleh India, yang mencapai 96,7 persen, sisanya diekspor ke Vietnam. Sedangkan di 2019 ekspornya masih didominasi oleh India sebanyak 91,6 persen, sisanya ke Vietnam dan Korea Selatan.

Terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil menyebut, sejalan dengan tugas strategis yang diberikan Mentan Syahrul Yasin Limpo mengawal Gratieks supaya ekspor komoditas pertanian meningkat, jajarannya melakukan penguatan sistem perkarantinaan.

Sistem perkarantinaan itu mencakup fasilitas pemeriksaan sarana dan prasarana laboratorium, serta kemampuan petugas memastikan kesehatan dan keamanan produk, sesuai protokol ekspor negara mitra dagang. “Ini adalah tugas kami untuk mengawal, juga memastikan agar kesehatan dan keamanan produk pertanian yang dilalulintaskan terpenuhi, sehingga terjamin di negara tujuan. Kementan juga akan terus mendorong pelaku usaha meningkatkan kemampuan produksi, kualitas produknya serta jaminan keberterimaan dan pendampingan pemenuhan persyaratan ekspor,” pungkas Jamil. (Ant)

Lihat juga...