Saksi Sebut Tentara dan Polisi Nigeria Tembak Demonstran

Pendemo berkumpul dekat papan iklan elektronik menampilkan slogan "Akhiri kekerasan polisi", pada aksi protes di Lagos, Nigeria, Sabtu (17/10/2020). Gambar diambil 17 Oktober 2020.

LAGOS – Tentara Nigeria menembak mati pengunjuk rasa yang menggelar aksi damai di Lagos bulan lalu, kemudian mereka mengangkut jenazah massa aksi, demikian pengakuan sejumlah saksi sebagaimana tertulis dalam testimoninya yang diserahkan ke pengadilan, Sabtu (13/11). Namun, pihak militer membantah kesaksian tersebut.

“Tentara menembak ke arah massa dan saya melihat banyak orang jatuh ke tanah, terluka dan mati di tempat,” kata Dabiraoluwa Ayuku dalam testimoninya.

Testimoni Ayuku merupakan satu dari tiga kesaksian yang diserahkan ke pengadilan di Lagos. Otoritas penegak hukum setempat menyelidiki dugaan penembakan dan pembunuhan yang dilakukan oleh anggota kepolisian serta militer, terhadap massa pengunjuk rasa di Gerbang Tol Lekki, Lagos.

Puncak aksi unjuk rasa massa berlangsung pada 20 Oktober. Demonstrasi itu menjadi yang terburuk sejak Nigeria kembali diperintah sipil pada 1999.

Amnesty International, organisasi nonpemerintah, mengatakan tentara dan polisi membunuh sekitar 12 pengunjuk rasa di dua distrik yang berbeda.

Tetapi, militer dan kepolisian membantah pernyataan tersebut.

Dalam testimoninya yang diserahkan ke panel penyelidik, Sabtu, Brigadir Jenderal Ahmed Taiwo yang mengepalai Divisi Angkatan Darat ke-81 di Lagos, mengatakan tentara menembakkan selongsong kosong ke udara demi membubarkan massa.

Namun, saat diperlihatkan foto temuan peluru di lokasi, Taiwo mengatakan peluru itu bukan milik tentara, tetapi mungkin milik kepolisian. Bukti foto itu menunjukkan 11 peluru ditemukan di lokasi dan dua di antaranya merupakan peluru tajam. Dari dua peluru itu, satu terlihat telah digunakan, sementara sisanya belum terpakai.

“Jika kami menembak peluru tajam ke massa, maka korbannya akan jauh lebih banyak,” kata Taiwo.

“Jadi kami telah mempertimbangkan risiko itu dan memutuskan menggunakan peluru kosong,” kata dia.

Dua saksi dari warga sipil mengatakan, beberapa tentara menembakkan peluru ke udara, tetapi tiga lainnya mengatakan pasukan lainnya menembak langsung ke arah massa sampai mereka luka dan tewas di tempat.

“Saya masih ingat satu orang tentara yang menari saat ia menembak,” kata Ayuku.

Sejumlah tentara mengangkut jazad demonstran dalam mobil van, kata dua orang saksi. Seorang saksi menambahkan tentara juga memungut selongsong peluru.

Polisi tiba pada malam hari dan kembali menembak ke arah massa aksi, kata dua orang saksi. Seorang saksi menyebut mereka melihat polisi menembak mati dua pria di lokasi unjuk rasa.

Ayuku mengatakan, ia kembali ke tempat kejadian esok paginya dan melihat banyak noda darah serta selongsong peluru di tanah, sementara banyak burung nasar — yang memakan bangkai — terbang di atas lokasi penembakan. (Ant)

Lihat juga...