Seekor Kambing Disembelih di Tengah Laut

Editor: Koko Triarko

MAUMERE –Selama 2 tahun sekali, warga etnis Buton asal Sulawesi yang sejak turun temurun mendiami Pulau Pemana dan Kojadoi di wilayah Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Maumere melaksanakan ritual adat Pemanga Temia Nutai.

Dalam ritaul adat ini,seekor kambing jantan berukuran besar yang telah disiapkan dinaikkan ke atas kapal dan disembelih oleh tetua kampung dan pemangku adat, di tengah laut di wilayah timur Pulau Pemana.

“Kambing dan makanan serta rokok disiapkan. Kepala kambing diletakkan di pinggir badan kapal, dan setelah membaca doa dan mengucapkan mantra, pemangku adat memotong leher kambing dan darahnya dibiarkan tumpah ke laut,” sebut Lukman, sesepuh warga Pulau Pemana,Kabupaten Sikka, saat ditemui Cendana News di Maumere, Minggu (8/11/2020).

Lukman menjelaskan, makanan serta rokok pun ikut dibuang pemangku adat ke laut sambil membaca mantra, dan ritual ini berlangsung sekitar 20 menit, dan kambing yang telah disembelih pun dibawa kembali ke Pulau Kambing untuk dimasak dan disantap bersama segenap warga.

Ia mengatakan, ungkapan dalam bahasa adat yang dilantunkan pemangku adat merupakan ungkapan terima kasih dan rasa syukur kepada para penghuni laut dari segala penjuru.

“Para penghuni laut ini yang sudah memberikan hasil berupa tangkapan ikan buat para nelayan. Juga sekaligus memohon agar para nelayan selalu dilindungi saat melaut,” ucapnya.

Dikatakan Lukman, ritual adat ini sempat hilang karena ada pandangan berbeda dari para nelayan, karena makin banyak orang berpendidikan dan menganggap perbuatan tesebut merupakan pekerjaan setan.

Padahal, menurutnya pelaksaan ritual adat ini tidak ada kaitannya dengan agama, tetapi adat budaya sehingga setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya digelar kembali pada 2015, setelah sempat hilang sejak 1972.

“Saat pelaksanaan ritual di tengah laut, biasanya dilakukan juga pemasangan rumpon sebagai rumah ikan. Maknanya agar sesama nelayan saling menjaga persaudaraan, karena semua nelayan bisa memancing di tempat tersebut,” terangnya.

H Boy, sesepuh warga Pulau Pemana lainnya menambahkan, setelah kembali ke Pulau Kambing, perahu-perahu mainan disiapkan di tepi pantai. Perahu tersebut juga dihiasi dengan aneka kertas berwarna-warni dan dicat dengan warna menarik.

Dia menyebutkan, di dalam perahu diletakkan daging, aneka makanan, kue dan buah-buahan serta rokok. Perahu tersebut pun kata dia, dilarung ke tengah laut sebagai makna memberi makanan  kepada semua penghuni dan penjaga laut.

“Jumlah perahu yang dilarung biasanya tergantung kepada banyaknya kapal nelayan yang ada di Pemanan dan Kojadoi. Setiap 10 kapal nelayan diwakilkan oleh sebuah perahu mainan yang dilarung,” tuturnya.

Boy menambahkan, ritual adat ini juga sarat pesan menjaga lingkungan. Ritual ini mengikat para nelayan dalam menjaga laut dengan tidak menangkap ikan dengan cara merusak terumbu karang, biota laut dan ekosistemnya.

Lihat juga...