Sejumlah Petani Lamsel Tembus Pasar Modern

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petani di Lampung Selatan, mengaku berhasil menembus pasar modern untuk penjualan komoditas buah, berkat penerapan Good Agricultural Pracitices (GAP).

Atin, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku sebelum menembus pasar modern, pihak pedagang akan melakukan pemeriksaan pada produk yang akan dijual. Hasil pertanian buah melon memperhatikan kualitas buah. Sistem sertifikasi produk pertanian berkelanjutan memakai teknologi ramah lingkungan. Hasilnya, produk pertanian aman dikonsumsi dan memberi kesejahteraan petani.

Penerapan GAP, sebutnya, mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48  Permentan/OT.140/10/2009 tentang Pedoman Budi Daya Buah dan Sayur yang Baik (GAP for Fruits and Vegetables). Pelatihan yang telah diikutinya membuat sistem budi daya tidak hanya mengandalkan kuantitas, namun juga kualitas. Buah melon yang dipanen usia 72 hari akan diambil pengepul.

Atin, petani melon alina di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, untuk pangsa pasar tradisional dan modern, Senin (2/11/2020). -Foto: Henk Widi

“Proses sortir sesuai grade berat akan dilakukan usai panen untuk pasar modern, namun tetap akan menghasilkan buah segar yang berpotensi dijual di pasar modern, sehingga hasil panen seluruhnya bisa dijual,” terang Atin, saat ditemui Cendana News, Senin (2/11/2020).

Dalam satu siklus penanaman melon selama 72 hari, Atin bisa memanen 2 ton melon. Tahap selanjutnya, ia bisa memanen sekitar 2 ton melon yang akan dijual ke wilayah Bandung. Sistem berkelanjutan pemanfaatan lahan untuk menanam buah, dilakukan untuk tanaman cabai merah. Penerapan sistem GAP pada komoditas pertanian, membuat harga lebih tinggi dan menguntungkan petani.

Petani lain, Sahbana, menyebut menerapkan sistem GAP untuk komoditas buah alpukat. Varietas buah alpukat sipit asia, mentega dan miki telah menjalani proses sertifikasi. Proses sertifikasi untuk mutu buah alpukat dilakukan oleh Dinas Pertanian Provinsi Lampung. Buah alpukat banyak diminati untuk pasar modern di wilayah Banten.

“Mutu benih yang telah bersertifikat dan kuantitas dalam bentuk grade ukuran menjadi syarat untuk kualitas buah yang akan dijual,” bebernya.

Sistem GAP pada produk pertanian buah alpukat, menurut Sahbana ikut mendongkrak harga. Per kilogram buah alpukat normalnya dijual Rp10.000, namun dengan kualitas standar GAP bisa dijual Rp15.000 per kilogram. Kuota permintaan buah alpukat, dalam sepekan bisa mencapai lima kuintal. Selain untuk pasar modern, ia juga melayani pasar tradisional di Cilegon.

Hasan, salah satu pedagang keliling menjual buah melon, semangka, jeruk. Buah yang dijual merupakan hasil sortir buah yang telah dijual ke pasar modern. Meski hasil sortiran, ia menyebut kualitas buah tetap sama. Sebagian buah melon dan semangka yang dijual hanya berbeda grade atau ukuran.

“Kualitas rasa tetap sama dengan buah yang dijual ke pasar modern, hanya saja ukuran lebih kecil,” bebernya.

Hasan sengaja menjual buah yang terjangkau oleh masyarakat. Setiap kilogram melon dan semangka dijual olehnya mulai harga Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram. Sebaliknya, harga buah di pasar modern bisa mencapai Rp15.000 per kilogram. Harga yang terjangkau membuat masyarakat bisa menikmati berbagai jenis buah segar. Khusus untuk jeruk, ia menjualnya seharga Rp10.000 per kilogram.

Nory, salah satu konsumen, kerap membeli buah segar di pasar modern. Kualitas yang terjamin membuat ia kerap memilih membeli buah segar di pasar itu. Jenis buah tertentu seperti melon golden, melon sky dan melon honey hanya tersedia di pasar modern. Namun, ia juga kerap membeli buah di pasar tradisional.

Lihat juga...