Sektor Kuliner di Bandar Lampung Serap Hasil Komoditas Buah Petani

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG –  Banyaknya sektor usaha kuliner di Bandar Lampung yang menggunakan buah sebagai bahan utama maupun bahan tambahan, memberi keuntungan bagi para petani buah dari berbagai daerah.

Sarmino, salah satu pedagang buah durian di Bandar Lampung, menyebut pasokan buah itu salah satunya berasal dari wilayah Sumatra Selatan dan dari luar Lampung. Meski belum puncak musim durian, ia selalu bisa mendapat pasokan.

Buah dengan aroma wangi tersebut, menurut Sarmino kerap diorder oleh pemilik usaha roti, martabak dan minuman buah. Meski di wilayah Lampung belum masuk musim buah berduri tersebut, ia selalu memiliki stok.

Sementara, peminat durian untuk disantap segar bisa membeli di pusat buah durian yang buka selama 24 jam di kawasan dekat stadion Sumpah Pemuda tersebut. Harga buah durian yang dipatok Rp30.000 hingga Rp100.000 per buah, masih menjadi favorit karena memiliki rasa khas.

Tren modifikasi kuliner dalam bentuk jus, sup buah durian hingga campuran kue, roti membuat permintaan stabil. Ia bahkan aktif mencari wilayah yang sedang masuk musim durian untuk menjaga pasokan.

Samsul Maarif, petani dan pengepul buah pisang asal Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (2/11/2020). -Foto: Henk Widi

“Pedagang buah durian memiliki komunitas, sehingga bisa saling berbagi informasi wilayah yang sedang panen, selain itu penciptaan varietas baru membuat sebagian petani bisa memiliki jenis tanaman durian yang lebih cepat berbuah tanpa menunggu musim,” terang Sarmino, saat ditemui Cendana News, Senin malam (2/11/2020).

Sarmino bilang, selain durian, di Jalan Sultan Agung komoditas hasil pertanian lain juga dijual, seperti mangga, jeruk, semangka dan melon. Berbagai jenis buah tersebut dijual sebagai bahan baku usaha lain, seperti jus buah dan rujak buah.

Pemilik usaha kuliner mengandalkan varian rasa buah, terlihat di Jalan Pangeran Antasari dan Jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang.

Henri, salah satu pedagang roti di Jalan Hayam Wuruk, mengaku menggunakan jenis pisang kepok dan janten. Dua jenis hasil pertanian yang dibeli dalam kondisi matang, kerap dipergunakan sebagai isian produk roti buatannya.

“Variasi rasa buah pisang menjadi daya tarik pelanggan, sekaligus menyerap hasil pertanian agar memiliki nilai jual lebih,” cetusnya.

Penyerapan komoditas pertanian untuk diolah menjadi produk yang bernilai jual lebih tinggi, juga dilakukan Koidir. Komoditas pertanian jenis nanas, strawberi, bluberi, pisang dan jagung manis digunakan untuk variasi kuliner martabak Bangka. Penggunaan variasi taburan atau topping hasil pertanian, ikut memberdayakan petani.

Pasokan berbagai jenis hasil pertanian, diperolehnya dari wilayah Lampung Selatan. Sejumlah hasil pertanian yang digunakan, menjadi cara untuk menyerap produk pertanian lebih bernilai jual. Lancarnya pasokan, ikut membantu pelanggan bisa menikmati kuliner berbagai rasa. Bagi petani, terserapnya hasil panen ikut membantu peningkatan ekonomi.

“Semua hasil pertanian jika dijual dalam bentuk olahan akan mendukung sektor usaha kuliner, seperti martabak yang saya jual,” bebernya.

Samsul Maarif, petani sekaligus pengepul buah pisang asal Bakauheni, Lampung Selatan, mengaku jenis pisang tertentu banyak dipesan pelaku usaha kuliner. Pisang janten, kepok dan tanduk kerap dipesan usaha gorengan.

Permintaan hingga 2 ton, dipenuhinya berasal dari Banten dan Bandar Lampung.

“Meski keuntungan petani hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram, tapi hasil panen pisang cukup menjanjikan,” bebernya.

Namun, selama pandemi Covid-19, ia menyebut harga pisang yang dijual sistem timbangan mengalami penurunan. Per kilogram pisang rata-rata dijual Rp5.000, kini anjlok menjadi Rp3.000 per kilogram.

Lihat juga...