Selama Pandemi, Penjualan Buah di Bandar Lampung Meningkat

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Sejumlah sentra penjualan buah segar di Bandar Lampung, mengalami peningkatan penjualan, selama pandemi Covid-19. Buah lokal menjadi komoditas yang paling dicari.

Sumardiono, salah satu pedagang di Pasar Tugu, Jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang, Bandar Lampung menyebut, buah lokal banyak dicari karena buah impor sulit didapat. Memasuki November, Sumardiono menyebut buah lokal mulai membanjiri pasar tradisional dan modern. Pedagang seperti dirinya, yang semula hanya menjual semangka, melon, dan jeruk. Kini menyediakan berbagai jenis buah mangga.

Buah musiman, yang didatangkan dari Indramayu paling mendominasi. Jenis mangga harum manis, golek, kuweni hingga pakel, saat ini dijualnya. Sehari, Sumardiono bisa menjual ratusan kilogram buah segar. Dan untuk menjaga kesegaran buah yang dijual, Sumardiono memilih berdagang pada malam hari. Rata-rata, dalam sehari ia bisa mendapat hasil ratusan ribu hingga jutaan rupiah dari kegiatan tersebut.

Mangga, menjadi buah paling dicari. Harga jualnya mulai dari Rp10.000 hingga Rp15.000 perkilogram. “Jenis buah mangga sedang banjir dari sejumlah wilayah yang panen luar Lampung, kalau lokal wilayah Lampung masih belum siap panen. Diprediksi pasokan buah mangga akan berlangsung hingga awal tahun mendatang,” terang Sumardiono, saat ditemui Cendana News, Sabtu (7/11/2020) malam.

Sumardiono (kanan) memilih berjualan buah saat malam hari di Pasar Tugu yang berada di Jalan Hayam Wuruk,Tanjung Karang,Bandar Lampung,Sabtu (7/11/2020) malam – Foto Henk Widi

Sumardiono menerapkan sistem berdagang secara berpencar, bersama istri dan kedua anaknya. Total stok yang dijual setiap hari bisa mencapai satu ton. Pusat penjualan buah milik Sumardiono ada di Jalan Hayam Wuruk. Namun istri dan dua anaknya memilih berdagang di Jalan Pangeran Antasari dan Jalan Gajah Mada. “Selama masa pandemi, stamina tubuh yang meningkat dengan mengonsumsi buah segar berimbas peningkatan penjualan,” tuturnya.

Meski banyak pesaing, Sumardiono menyebut tidak membuat harga jual buah segar anjlok. Melon dan semangka, tetap dijualnya dengan harga Rp4.000 hingga Rp6.000 perkilogram. Jeruk keprok dijual Rp12.000 hingga Rp15.000 perkilogram.

Sumardiono mengaku, buah miliknya kerap tidak terjual banyak karena adanya pembatasan aktivitas yang diakibatkan oleh pandemi corona. Namun, semenjak penerapan masa adaptasi kebiasaan baru (new normal), bisnis jual beli buah kembali bergairah, bahkan penjualan mengalami peningkatan.

Nory, salah satu konsumen menyebut, membeli mangga harum manis dan golek yang memiliki kandungan serat, vitamin C dan sejumlah nutrisi yang berguna untuk imunitas tubuh. Selain dikonsumsi dalam kondisi segar, buah mangga kerap dibuat menjadi jus dan pelengkap puding.

Pusat penjualan buah yang ramai saat malam hari di Bandar Lampung, terlihat di Jalan Sultan Agung. Sarmino, salah satu pedagang menyebut, jalan Sultan Agung dikenal sebagai pusat penjualan buah durian. Meski ada pedagang yang menawarkan semangka, mangga, melon dan buah segar lainnya. “Pedagang buah di Jalan Sultan Agung dominan merupakan pedagang buah menetap sejak puluhan tahun silam,” tandasnya.

Durian, yang memiliki aroma khas, kerap menjadi buruan saat musim penghujan. Buah yang disebut-sebut berkhasiat untuk menghangatkan badan tersebut, kerap dikonsumsi dengan dicampur kopi. Sehari, Sarmino bisa ratusan gandeng buah durian. Harga jualnya mulai dari Rp50.000 hingga Rp70.000.

Selain menjual durian utuh, Sarmino juga menyediakan sop dan tempoyak. Sop buah durian, kerap disiapkan dalam bentuk beku (frozen). Sementara bahan tempoyak, yang berupa daging buah durian fermentasi, dikemas pada plastik khusus. Tempoyak dijual mulai harga Rp50.000 perkemasan.

Lihat juga...