Sistem Hidroponik, Solusi Pertanian Keterbatasan Lahan Masyarakat Kota

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pertanian dengan sistem hidroponik menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan yang ingin bercocok tanam, namun memiliki keterbatasan lahan. Metode ini sangat efektif untuk dikembangkan di pekarangan, teras rumah maupun sudut rumah.

Seperti yang dilakukan oleh Alhary Pangestu Utami, yang memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam ragam sayuran dengan sistem hidroponik. Menekuni metode ini, yakni untuk mengisi waktu di kala Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa pandemi Covid-19.

“Awalnya untuk ngisi waktu, tidak ada kegiatan, saya coba nanam sayuran dengan cara hidroponik. Lama-lama jadi hobi, dan saya belajar otodidak,” ujar Estu demikian panggilannya, kepada Cendana News di temui di rumahnya, di Jakarta, Senin (9/11/2020).

Ragam sayuran yang ditanam Estu, di antaranya pokcai, sawi, salada air dan kangkung. Sistem hidroponik menurutnya lebih produktif ketimbang menanam di media tanah. Masa panen sayuran seperti pokcai hanya membutuhkan waktu 45 hari tanam. Sedangkan sawi waktu 30 hari, dan kangkung itu masa tanam 10 hari sudah panen.

“Alhamdulillah pokcai, sawi dan kangkung sudah panen. Selain dikonsumsi sendiri, saya bagi ke tetangga juga,” ujar Estu.

Dia menegaskan, bercocok sayuran ini memang hasil panennya bukan untuk dijual.Tetapi setidaknya untuk menyukseskan program urban farming di masa pandemi Covid-19. Tentu program ini harus dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hingga lingkungan menjadi hijau dan asri, hasil panen sayuran juga bisa dinikmati tidak perlu membeli.

“Apalagi kan di lingkungan RT 01/RW Cijantung ini belum ada yang nanam sayuran hidroponik. Saya tertarik untuk mencobanya, dan malah jadi hobi,” ujar Estu.

Adapun cara menanam sistem hidroponik, dia menjelaskan, pertama biji-biji sawi, pokcai dan salada air disemai di rockwool selama 10 hari hingga keluar kecambah. Kemudian pindahkan tanaman itu ke media netpot atau pot hidroponik, yang dibawahnya sudah tertempel kain flanel.

Tanaman sayuran di netpot itu ditaruh di media tanam bisa berupa baskom, keranjang buah yang dalamnya berisi air yang sudah diplastikin, atau bisa juga paralon dan bambu.

“Nantinya air akan terserap oleh akar tanaman,” ujarnya

Namun demikian kata Estu, air yang dimasukkan ke dalam plastik atau baskom, terlebih dulu masukkan nutrisi ke dalam satu liter air. Lalu campurkan adukan nutrisi itu kedalam air yang ada dalam baskom tersebut.

Setelah tercampur, kemudian ukur PPM (Part Per Million) airnya dengan alat pengukur.

PPM ini untuk pengukuran konsentrasi massa kimiawi yang menunjukkan berapa banyak gram dari suatu zat yang ada dalam satu liter dari cairan.

“Cara pengukur derajat keasaman air (pH) setiap tanaman itu beda-beda untuk mengukur ketinggian PPM airnya. Misalnya, pokcai itu antara 800-1000 PPM, salada air 600-800 PPM, dan kangkung itu 1000-1400 PPM,” urainya.

Dia mencontohkan lagi, alat pengukur dimasukkan ke dalam baskom yang sudah berisi air bercampur nutrisi.

“Misalnya, saat alat itu dicelupin ke dalam air, PPM-nya sekitar 900 berarti sudah oke. 5 hari kedepan dicek lagi karena biasanya suka turun pH airnya. Apalagi kalau hujan langsung berkurang pHnya,” jelas wanita lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Namun untuk tanaman sayur yang masih kecil, biasanya Estu mengukur keasaman airnya juga dengan PPM yang tidak terlalu tinggi.

“Kalau tanaman masih kecil, saya sih biasanya di 400 PPM air. Nanti semakin besar daunnya, kandungan PPM airnya dinaikin lagi,” terangnya.

Sebetulnya menurut dia, jika PPM airnya kurang tidak masalah hanya saja berdampak daunnya akan menguning dan tamanan tumbuh kerdil.

Lebih lanjut Este mengatakan, jika didapati daun pokcai kena hama lalat buah, hingga menjadikan daunnya bersisik menguning. Maka cara perawatannya dengan bawang putih.

“Bawang putih digerus, lalu dikasih air dan saring. Air bawang putih itu ditutup dan diamkan semalam, baru semprotkan ke daun pokcai yang kena hama,” jelas Estu.

Menurutnya, cara bercocok tanam dengan sistem hidroponik ini sangat mudah dan efektif, yang penting lagi adalah telaten dalam merawatnya. Seperti, saat biji yang disemai di rodwool sudah menjadi kecambah, lalu dipindahkan ke net pot itu harus selalu dijemur agar kena sinar matahari.

“Tentu, kita juga harus rajin mengukur PPM airnya,” ujarnya.

Selain sayur pokcai, sawi, salada air dan kangkung, Estu juga menanam cabai merah, cabai rawit, kacang panjang, dan buah melon.

Namun menurutnya, untuk ragam sayuran tersebut ditanam dengan media tanah bukan dengan sistem hidroponik.

“Alhamdulillah cabai dan kacang panjang sudah panen ya. Ditanamnya dengan media tanah dalam sebuah pot, itu untuk cabai. Kalau kacang tanah,bijinya cukup ditabur ditanah, sudah tumbuh,” ungkapnya.

Namun untuk buah melon baru bibitnya baru disemai belum ditanam di media tanah. Kedepan Eatu akan memperbanyak ragam sayuran yang ditanamnya. “Saya ingin tanam sayur bayam dengan sistem hidroponik, tapi belum terlaksana,” ujarnya.

Estu berharap masyarakat disekitar rumahnya dapat tertarik untuk menanam sayuran dengan sistem hidroponik, terkhusus generasi muda. Jika mereka berminat, Estu pun siap untuk memberikan edukasi terkait metode hidroponik ini kepada mereka.

“Kalau teman-teman mau belajar, saya siap berbagi ilmu cara tanam hidroponik ini. Saya juga belajar otodidak, kini jadi bisa dan hobi. Saya berharap lingkungan RT 01/RW 02 kedepannya lebih asri dan sejuk dengan tanaman hidroponik,” tutup Alhary Pangestu Utami, yang merupakan guru di MTs Al Maghfiroh.

Lihat juga...