Status Merapi Siaga, Warga Mulai Jalankan Mitigasi Bencana

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Sejumlah warga di lereng gunung Merapi, Cangkringan, Sleman, mulai mempersiapkan diri menyusul peningkatan status Gunung Merapi dari Waspasa (level II) ke Siaga (level III) oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Kamis (05/11/2020) siang.

Salah seorang warga, Waji asal dusun Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan Foto Jatmika H Kusmargana

Meski sejumlah warga masih melakukan aktivitas seperti biasa, namun mereka mengaku sudah mempersiapkan diri seperti mengemas barang-barang berharga untuk dibawa jika nanti sewaktu-waktu terjadi erupsi. Menyusul peningkatan aktivitas ini, BPPTKG Yogyakarta sendiri telah menambah zona batas aman dari semula 3 kilometer menjadi 5 kilometer dari puncak.

Salah seorang warga, Waji asal dusun Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari puncak mengaku sudah mengetahui informasi tentang pengangkatan status gunung Merapi tersebut dari internet. Meski begitu ia menyebut belum menerima sosialisasi resmi dari pihak terkait baik itu dari pemerintah desa maupun BPBD kecamatan.

“Ya tadi sudah tahu, dari HP. Tapi memang belum ada arahan apapun dari pemerintah atau BPBD. Berdasarkan pengalaman erupsi sebelum-sebelumnya, kita ya persiapan secara mandiri. Tadi sudah kemas barang-barang berharga seperti surat-surat dan sertifikat ke dalam tas. Jadi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi tinggal dibawa mengungsi,” ujarnya Kamis siang.

Sikap waspada sejumlah warga lereng gunung Merapi tersebut memang tak bisa dilepas dari pengalaman buruk peristiwa erupsi besar gunung Merapi tahun 2010 silam. Waji sendiri saat itu mengaku menjadi salah satu korban keganasan gunung Merapi. Dimana rumahnya yang berada di dusun Kopeng harus rusak setelah terkena lontaran material seperti debu vulkanik hingga setebal 30 centimeter.

“Sejak 2010 saya dan keluarga tidak lagi tinggal di rumah asli. Karena rumah telah rusak. Sejak saat itu saya pindah ke Huntab (hunian tetap) yang lebih aman,” katanya.

Sementara itu warga lainnya Heri, warga dusun Monggang, Kepuharjo, Cangkringan, mengaku melakukan hal serupa. Meski tinggal di rumah yang berjarak sekitar 9 kilometer dari puncak Merapi, ia mengaku tetap menjalankan langkah mitigasi sebagaimana telah disosialisasikan dan diajarkan pihak terkait kepada warga sejak jauh-jauh hari.

“Ya kita tetap melakukan sejumlah persiapan seperti menjauhi radius yang ditetapkan hingga melakukan persiapan jika sewaktu-waktu harus mengungsi. Namun sampai saat ini kegiatan sehari-hari masih berjalan seperti biasa. Kita tetap beternak dan bertani seperti bisa. Sambil menunggu arahan dari pihak terkait,” jelas warga yang bekerja sebagai peternak ayam ini.

Lihat juga...