Sumur Jamblang Miliki Arti Penting Bagi Warga Jatimelati

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Sumur Jamblang di Kampung Pondok Melati, Kelurahan Jatimelati, Kota Bekasi, Jawa Barat, memiliki legenda tersendiri. Sebagai sumber mata air, sumur tersebut tak pernah kering dan menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar.

Penamaannya pun unik, yakni Sumur Jamblang, karena terdapat akar pohon Jamblang yang menghitam, seolah menjaga kemurnian air. Areal sumur itu dahulu diketahui berada di tengah persawahan yang kini sudah berubah menjadi bangunan dan dibatasi tembok raksasa.

Syarifudin Wangsa, tokoh masyarakat Kampung Pondok Melati, Bekasi, Minggu (8/11/2020). –Foto: M Amin

Meski demikian, oleh warga masih dijaga dengan membuatkan rumahan. Begitulah cara mereka menjaga mata air sebagai sumber penghidupan, agar tak lekang oleh waktu. Sumur Jamblang adalah situs bersejarah, sumber mata air yang terkesan lepas dari perhatian pemerintah.

Sumur tua itu punya arti sejarah bagi warga di Kampung Pondok Melati, terutama saat terjadi kemarau panjang dan kekeringan terjadi, sumur Jamblang menjadi satu-satunya sumber mata air yang dimanfaatkan warga sekitar.

Pegiat sejarah dan tokoh Pondok Melati, Syarifuddin Wangsa, kepada Cendana News mengisahkan, bahwa lahan sekitar lokasi Sumur Jamblang pada zaman pemerintah Belanda, merupakan kawasan bebas pajak atau verponding. Sehingga, keberadaan sumur Jamblang pun sudah mendapat pengakuan dari Belanda hingga dibuatkan surat.

“Warga menyebutnya dulu tanah Merdika, untuk istilah tanah yang bebas pajak dari Belanda. Tanah tersebut adanya di Kampung Pondok Melati ini,” kisah Syarifuddin Wangsa, Minggu (8/11/2020).

Sumur tua itu terletak di bagian belakang pemukiman warga RT06/05 wilayah Kampung Pondok Melati, Kelurahan Jatimelati, Jalan Raya Hankam Ujung Aspal. Saat ini, lokasinya dikelilingi, kolam ikan sebagai mata pencaharian warga sekitar yang sudah turun temurun, dan berbatasan langsung dengan tembok milik pengembang.

Sumur tersebut, saat ini masih banyak dikunjungi warga tertentu. Tempatnya masih sepi, dan sampai sekarang sumur itu tidak pernah surut airnya sedikit pun. Meski memasuki puncak musim kemarau.

“Masih ada yang berkunjung untuk tujuan tertentu. Karena sumur Jamblang masih ada kaitan dengan sumut bersejarah di Kranggan,” ucap Abah Kiting, yang saat ini masih menjaga lokasi sumur tersebut.

Saat tradisi mauludan seperti sekarang, sumur Jamblang, imbuhnya, banyak dikunjungi. Zaman dahulu, saat bulan Maulud seperti sekarang, banyak orang dari Kranggan, Banten dan Cirebon datang dan mengambil air Sumur Jamblang.

Jamblang adalah sejenis jambu atau duwet, yang memiliki warna ranum dan rasanya sepet. Akarnya tepat berada di tengah sumur, dan tidak bisa diangkat, meskipun sudah ada yang mencoba. Dulu pohon Jamblang tumbuh liar,  saat ini hanya tersisa akarnya saja di tengah sumur.

Dalam rangka menjaga keberlanjutan Sumur Jamblang, Abah Kitting dan Syarifuddin Wangsa berharap ada perhatian pemerintah, seperti pemasangan plang nama dengan ukuran besar, sekaligus menjelaskan sejarah singkatnya.

“Sudah diajukan, tapi hanya dibantu oleh Camat melalui dana pribadi. Untuk membuat plang tidak cukup, karena kita ingin ukuran agak besar, dan menjelaskan sejarah singkat Sumur Jamblang, tidak hanya plang pemberitahuan saja,” ujar Abel, tokoh pemuda setempat.

Lihat juga...