Susi Ajak Wisatawan Asing di Sikka Praktik Mengolah Kopi

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan di Kabupaten Sikka, dan beberapa wilayah lain di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Untuk memperkenalkan kopi dan cara mengolahnya, seorang pemilik penginapan di Kota Maumere membuat kursus singkat mengolah kopi, dimulai dari memilih biji kopi hingga membuatnya menjadi bubuk dan dikemas.

“Saya membuka kursus singkat membuat gado-gado dan mengolah kopi, dan ditawarkan kepada wisatawan asing yang menginap di tempat saya,” ucap Wenefrida Efodia Susilowati, pemilik penginapan di Lokari, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Sabtu (14/11/2020).

Susi, sapaan karibnya, mengaku dampak pandemi membuat berpikir keras agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan, setelah mulai ada satu-dua wisatawan asing yang menginap di tempatnya sejak awal November 2020.

Pemilik penginapan di pantai Lokaria, Desa Habi,Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Wenefrida Efodia Susilowati, saat ditemui di penginapannya, Sabtu (14/11/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia menyebutkan, paket memasak gado-gado dan mengolah kopi ditawarkan dengan harga Rp300 ribu per orang, semua bahan-bahannya disiapkan olehnya sendiri, termasuk peralatan memasak.

“Setelah coba saya tawarkan kepada wisatawan asing, ternyata mereka antusias sekali, karena selama ini banyak dari mereka yang tidak tahu bagaimana mengolah kopi hingga menjadi bubuk,” ujarnya.

Susi menjelaskan, biji kopi yang dibeli di pasar tradisional di Kota Maumere dipilih biji kopi yang bagus, lalu digoreng hingga berwarna kehitaman. Kemudian dihaluskan menggunakan mesin dan dimasukkan ke dalam kemasan.

Wisatawan asing asal Swedia, Rebecca Stephanie dan Erik Vilhelm, saat ditemui Cendana News terlihat bersemangat mengikuti pelatihan mengolah kopi, yang menurut keduanya baru pertama kali diikuti.

Rebecca mengaku, saat di negaranya dirinya tidak pernah mengkonsumsi kopi. Namun, setelah datang ke Indonesia dirinya mulai menikmati kopi yang disuguhkan, dan akhirnya mulai tertarik mengkonsumsinya.

“Sebelumnya saya tidak pernah meminum kopi, tetapi setelah berlibur di Indonesia saya tertarik mencicipi kopi, dan lama kelamaan mulai merasa nikmat meminum kopi,” ujarnya.

Sementara, Erik, pasangannya, mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia dan saat berada di Bali, Lombok hingga Flores, dirinya selalu menikmati kopi dan rasanya berbeda di setiap daerah.

“Saya tertarik belajar karena di negara saya hanya melihat kopi dalam kemasan. Saya jadi tahu memilih kopi, membersihkan, menggoreng hingga menghaluskan dan mengemasnya,” ucapnya.

Erik mengaku, kopi bubuk hasil olahan mereka akan dibawa selama perjalanan mengunjungi beberapa daerah lainnya di Indonesia, agar bisa diminum selama perjalanan wisata tersebut.

Lihat juga...