Tarik Minat Wisatawan, Jembatan di Sleman Dihias Motif Batik

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Sebagai upaya menarik minat wisatawan sekaligus menjadikan ikon desa, para pemuda di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, menghias jembatan gantung sepanjang kurang lebih 100 meter yang berada di kawasan wisata lereng Gunung Merapi, dengan motif batik.

Salah seorang pemuda Karang Taruna desa setempat, Amino Fajar Nugraha, menyebut Jembatan Pager Jurang yang dibangun sejak tahun 2012 lalu itu, awalnya merupakan jembatan sementara yang fungsikan sebagai penghubung Desa Kepuharjo dan Umbulharjo Cangkringan Sleman. Setelah dibangun jembatan baru yang lebih permanen, kini jembatan dengan seling atau tali besi yang dikaitkan pada dua sisi badan tebing Kali Opak ini bukan lagi menjadi jembatan utama.

“Karena memiliki bentuk yang cukup unik, banyak wisatawan baik ibu-ibu atau anak-anak muda yang setiap kali lewat sini selalu berhenti untuk foto-foto. Dari situ kita berpikir bagaimana membuat jembatan ini menjadi lebih menarik lagi sehingga bisa menjadi ikon wisata Desa Kepuharjo. Akhirnya kita memutuskan untuk mengecatnya dengan motif batik,” katanya belum lama ini.

Pemuda Karang Taruna Desa Kepuharjo, Amino Fajar Nugraha. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Selain untuk menarik minat wisatawan, penghiasan jembatan gantung Pager Jurang ini juga dilakukan untuk semakin menghidupkan pariwisata di Desa Kepuharjo yang memang memiliki banyak sekali destinasi lokasi wisata di kawasan lereng Merapi. Diharapkan dengan bertambahnya spot foto sekaligus ikon wisata baru, perekonomian masyarakat desa juga akan semakin meningkat.

“Dipilih motif batik karena batik merupakan salah satu ikon Jogja. Selain itu kita juga ingin menghias jembatan ini dengan konsep yang berbeda. Di tempat lain mungkin sudah banyak jembatan gantung yang dihias dengan motif warna-warni. Namun untuk motif batik, mungkin baru jembatan ini,” ungkapnya.

Memanfaatkan dana swadaya masyarakat, di kawasan jembatan gantung ini nantinya juga akan dibangun semacam food court atau warung-warung makanan dan minuman kecil yang dikelola pemuda Karang Taruna. Sehingga wisatawan yang hendak berfoto di jembatan gantung bisa beristirahat dan bersantai sembari menikmati keindahan jembatan tersebut.

“Warga desa juga bisa berjualan di sekitar jembatan gantung ini. Sehingga bisa menambah pendapatan mereka. Dengan begitu perekonomian desa juga akan semakin meningkat,” katanya.

Proses penghiasan jembatan sendiri saat ini hampir rampung. Selain dicat motif batik, para pemuda juga berencana menghias jembatan dengan lampu-lampu gantung sehingga akan terlihat semakin menarik pada saat malam hari.

Lihat juga...