Tekan Angka DBD, Pemantauan Jentik di Sikka Harus Intens

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sebagai sebuah daerah dengan kasus Demam Berdarah tertinggi di Indonesia selama tahun 2020, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus fokus melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan pementauan jentik di setiap rumah.

Dokter spesialis penyakit dalam yang juga pemerhati malaria dan DBD, dr. Asep Purnama, SpPD saat ditemui di RS TC Hillers, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (20/11/2020). Foto : Ebed de Rosary

Masih banyak warga di daerah ini yang belum peduli padahal dulu ada laskar jentik yang dibentuk hingga ke berbagao daerah termasuk di sekolah-sekolah dengan melibatkan para pelajar.

“Kita harus fokus melakukan pemantauan jentik dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di setiap rumah dan wilayah masing-masing,” pinta dr. Asep Purnama, SpPD, dokter RS TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di rumah sakit, Jumat (20/11/2020).

Asep menyebutkan, berdasarkan data tahun 2019, Angka Bebas Jentik di beberapa wilayah Puskesmas tergolong tinggi, di atas standar yang ditetapkan 95 agar bisa terbebas dari demam berdarah.

Menurutnya, angka bebas jentik yang tergolong tinggi ada di Puskesmas Feondari Kecamatan Tanawawo sebesar 99 persen dan Tuanggeo Pulau Palue 97 persen sementara Puskesmas Koting 94 persen, Boganatar 92 persen dan Wolofeo 91 persen.

“Tahun 2019 saja hanya 2 Puskesmas yang membawahi wilayah sebuah kecamatan yang angka bebas jentiknya di atas 95 persen sementara 3 Puskesmas lainnya hampir mendekati angka 95 persen,” ujarnya.

Asep menjelaskan, untuk tahun 2018 angka kasusnya 157 yang mengakibatkan 2 warga meninggal dunia sementara tahun 2019 kasusnya meningkat mencapai 620 kasus yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, meminta agar segenap elemen masyarakat harus serius bekerjasama dengan tenaga kesehatan guna merealisasikan angka bebas jentik di atas 95 persen.

Petrus memaparkan, kondisi saat ini berdasarkan pemantauan petugas kesehatan ke rumah-rumah warga, angka bebas jentik di Kabupaten Sikka masih jauh dari harapan karena baru mencapai 65 persen.

“Kita akan terus berupaya menggandeng berbagai instansi dan lembaga serta berbagai elemen masyarakat agar angka bebas jentik bisa di atas 95 persen. kalau angkanya di atas 95 persen maka Kabupaten Sikka bebas dari demam berdarah,” tegasnya.

Dikatakan Petrus, pihaknya telah membentuk 25 Tim Gerak Cepat (TGC) di setiap Puskesmas, plus 5 tim Koordinator Dinas Kesehatan Sikka yang bertujuan untuk melakukan sosialisasi pencegahan DBD dan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di setiap wilayah.

Lihat juga...