Tingkatkan Minat Baca, Komunitas PENA Inisiasi Gerakan Anti-Amnesia Buku

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sejak awal tahun 2016, Komunitas Pemuda Nusantara (PENA) mulai aktif mengajak masyarakat untuk gemar membaca buku dan peduli terhadap literasi, melalui Gerakan Anti-Amnesia Buku (GAAB).

Programnya beragam, mulai dari menyediakan Taman Pustaka setiap akhir pekan di beberapa taman kota di Jakarta, hingga membuka ruang donasi buku melalui program Rp2.000 Buku, di mana setiap donasi minimal Rp2.000 akan dikonversi menjadi buku.

Miftach Razzaq, Ketua Komunitas PENA mengungkapkan, bahwa gerakan tersebut terinspirasi dari sebuah artikel yang ditulis salah seorang Praktisi Pendidikan Tanah Air, Haidar Bagir berjudul “Amnesia Buku”.

Ketua Komunitas PENA, Miftach Razzaq (kiri) dan Inisiator Gerakan Anti-Amnesia Buku, Ahmad Murtadha (kanan) saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/11/2020). Foto: Amar Faizal Haidar

“Dalam artikel itu disebutkan, bahwa literasi masyarakat Indonesia sangat rendah. Dari 61 negara yang diteliti oleh Central Connecticut State University, Amerika, Indonesia berada di peringkat 60. Ini yang jadi keprihatinan kami, dan keprihatinan itu kami tuangkan dalam sebuah gerakan, yaitu GAAB ini,” ujar Miftach kepada Cendana News, Kamis (5/11/2020) di Jakarta.

Selain itu, menurut Miftach, menyebarluasnya informasi palsu (hoaks) di tengah masyarakat adalah akibat rendahnya minat baca atau literasi. Kebanyakan masyarakat, sambung Miftach, enggan membaca secara utuh informasi yang diterima, dan enggan pula menelusuri lebih dalam informasi tersebut untuk mengetahui kebenarannya.

“Kita ini masih berkutat pada persoalan hoaks, bahkan itu menjadi problem nasional. Sekali lagi, sebabnya adalah literasi. Kalau literasi masyarakat kita bagus, hoaks itu akan hilang dengan sendirinya,” papar Miftach.

Sementara itu, Inisiator GAAB, Ahmad Murtadha mengaku senang, pasalnya Gerakan Anti-Amnesia Buku cukup diapresiasi oleh masyarakat. Setiap akhir pekan, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua menikmati kegiatan membaca di Taman Pustaka yang dihadirkan Komunitas PENA.

“Alhamdulillah juga, karena Taman Pustaka ini konsisten hadir. Jadi setiap akhir pekan, selain berolahraga di taman, masyarakat juga bisa membaca buku dengan beragam judul yang menarik. Kemudian anak-anak pun bisa belajar. Kami sediakan semuanya,” jelas Ahmad.

Di sisi lain, kata Ahmad, donasi Rp2.000 buku pun mendapatkan perlakuan serupa. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya peduli dan ikut berdonasi untuk gerakan ini. Donasi-donasi itu, memperkaya ragam judul bacaan yang disediakan Komunitas PENA.

“Kami biasanya tiap pekan juga membuka donasi di acara Car Free Day. Jadi ada yang di Taman Pustaka, ada juga yang membuka donasi di Bundaran HI. Ini kami jalankan dengan tujuan agar semua orang peduli, semua orang mulai kembali membaca. Sebab kami percaya, bangsa yang besar adalah bangsa dengan tingkat literasi yang tinggi,” tukas Ahmad.

Selama masa pandemi ini, Ahmad mengakui, beberapa kegiatan mengalami kendala. Namun Komunitas PENA berkomitmen untuk terus bergerak aktif mencari formula yang lebih adaptif dengan situasi saat ini, agar tetap bisa mengajak masyarakat melek literasi.

“Sementara kami di komunitas masih terus konsolidasi, menata dan mengevaluasi berbagai kegiatan yang sudah kami lakukan. Kita berharap pandemi segera berakhir, dan kita dapat beraktivitas sebagaimana biasanya kembali,” pungkas Ahmad.

Lihat juga...