TK Pembina Negeri Maumere Tiga Hari KBM Tatap Muka

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Pembina Negeri Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, memberlakukan pembelajaran tatap muka selama 3 hari di sekolahnya, sejak hari Senin sampai Rabu, bagi 4 ruang kelas.

Pembelajaran tersebut dilakukan selama jam 08.00 WITA sampai jam 9.30 WITA setiap harinya dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, saat sebelum masuk sekolah maupun selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

“Kami baru melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah selama dua minggu lebih,” kata Guru Kelas A TK Pembina Negeri Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Katarina Siena, saat ditemui Cendana News di sekolahnya, Kamis (5/11/2020).

Guru TK Pembina Negeri Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Katarina Siena saat ditemui di sekolahnya, Kamis (5/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Katarina mengatakan, sebelum masuk ke kelas, di gerbang pintu masuk sekolah, setiap murid dicek suhu tubuhnya. Lalu setelah itu mencuci tangan sebelum masuk ke ruangan kelas masing-masing, satu per satu.

Ia menambahkan, setiap anak pun wajib memakai masker dan di dalam kelas tempat duduknya diatur agar ada jarak dan hanya bermain sendiri saja. Tidak boleh menggunakan permainan bersama-sama.

“Kami membuat pagar dengan tali di depan ruang kelas dan membuat penghalang antarkelas agar anak-anak tidak menggunakan sarana bermain di halaman sekolah serta bermain dengan teman lainnya di kelas yamg lain,” ujarnya.

Katarina mengakui, jumlah murid di tahun 2020 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, sebelum Covid-19 dimana rata-rata setiap kelas terdiri dari 15 orang murid.

Dia menyebutkan, jumlah murid di kelasnya hanya 10 orang saja. Sementara kelas lainnya pun jumlahnya di bawah 15 orang. Sebab kemungkinan besar orang tua murid mengalami kesulitan keuangan akibat dampak pandemi Corona.

“Kami ada 5 orang guru termasuk kepala sekolah, termasuk juga seorang guru honor komite. Ada juga seorang petugas kebersihan sekaligus penjaga sekolah dan tata usaha, merangkap operator komputer yang merupakan tenaga honor,” ungkapnya.

Menurut Katarina, 3 orang pegawai ini semua gajinya mengandalkan iuran dari orang tua murid, dimana dalam sebulan setiap anak dipungut Rp100 ribu. Namun saat ini banyak juga orang tua yang menunggak pembayaran.

Remigius Nong, salah seorang pemilik sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Maumere pun mengakui, para guru merupakan relawan yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah, dan semuanya tidak mendapatkan gaji.

Remi sapaannya mengakui, pihaknya pun memberikan bibit tanaman sayuran kepada para guru untuk bisa ditanam di pekarangan rumah serta kebun agar bisa memperoleh penghasilan dari menjual sayuran.

“Kalau membayar gaji tentu saya tidak mampu, karena sekolah ini didirikan atas keprihatinan saya agar anak-anak usia dini di lingkungan sekitar tempat tinggal saya bisa bersekolah secara gratis,” ucapnya.

Lihat juga...