Urban Farming di Bekasi Kian Marak dengan Memanfaatkan Lahan Tidur

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Urban farming atau aktifitas pertanian pangan di perkotaan wilayah Bekasi, Jawa Barat, kian banyak terlihat di berbagai lokasi lahan kosong wilayah setempat. Bahkan, sampai aliran air tak luput dimanfaatkan warga untuk budidaya tanaman seperti genjer.

Hal tersebut terlihat seperti di wilayah Rawalumbu, tepat di komplek metropolitan yang dilintasi aliran air, dijadikan warga sebagai tempat budidaya genjer saat air surut. Padahal memiliki resiko tinggi saat terjadi hujan dipastikan tanamannya terendam air.

“Lahan di sini, sangat terbatas, lahan kosong bisa dikatakan tidak ada, semua sudah dipenuhi bangunan. Aliran air intake luas, tapi musim kemarau kering,” ujar Juin, warga setempat kepada Cendana News, saat memetik daun genjer, Senin (30/11/2020).

Ia mengaku, menanam di aliran air tersebut karena genjer lebih tahan air. Menurutnya jika aliran air meningkat tanaman genjer miliknya diyakini masih bisa bertahan asal tidak terendam selama satu mingguan.

Juin, tidak memiliki pekerjaan tetap, tanaman genjer tersebut ia jual ke warung-warung dengan harga Rp5000 tiga ikat. Sehari jika memasuki musim panen dirinya menjual sampai 30 ikat.

Saat ini di Kota Bekasi, di berbagai sudut lahan kosong yang seyogya milik perusahaan banyak dimanfaatkan oleh warga terutama lahan yang berada di pinggir jalan besar, ditanami aneka budidaya seperti sayuran, pepaya dan lainnya.

Anto Wijaya warga lainnya di jalan Raya Cipendawa Baru, Bantargebang, memilih budidaya cabai keriting untuk mengisi waktu senggang. Lahan kosong yang masih cukup banyak di jalur tersebut banyak dimanfaatkan warga untuk ditanami pepaya, kacang panjang dan sayuran kangkung.

“Petani, kebanyakan kami yang sudah tua. Mana mau mereka yang muda membuka lahan kosong yang tidak terlalu luas untuk budidaya, hasilnya berapa. Kami ini iseng, saja sebenarnya dan hasilnya lumayan untuk sekedar menambah kebutuhan harian,” ujar Anto warga setempat.

Terpisah Eko Revmawati, Kasi Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Kekasi, mengakui sebenarnya lahan areal pertanian masih ada sekitar 475 hektar. Namun demikian imbuhnya areal tersebut masih mengandalkan lahan pengembang walaupun ada beberapa milik perorangan.

Petani sendiri sudah memiliki beberapa kelompok terbagi dari 73 kelompok tani yang tersebar di 12 kecamatan. Kebanyakan berasal dari tani sawah, olahan, sayur, dan peternakan.

“Pembinaan terhadap petani masih aktif meskipun rata rata mereka mengolah lahan pengembang atau perusahaan (bukan lahan milik petani) seperti sawah banyak. sudah dimiliki oleh pengembang tapi diperbolehkan,” tukasnya.

Dengan keterbatasan lahan, kata dia, kelompok tani Pamahan, Jatiasih, kebanyakan memanfaatkan ladang yang digunakan untuk menanam sayuran masih cukup luas. Kelompok Tani yang masih bertahan di Kota Bekasi di antaranya kelompok tani sawah, sayuran, olahan, dan peternakan.

Lihat juga...