Usaha Bengkel di Sikka Mulai Bergeliat Lagi

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Setelah sempat mengalami kelesuan semenjak merebaknya wabah Covid-19 di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), usaha perbengkelan dan tambal ban di pinggir jalan mulai bergeliat kembali.

Meski begitu, jasa servis atau perbaikan kendaraan bermotor dan tambal ban masih belum menghasilkan pendapatan maksimal karena aktivitas ekonomi baru menggeliat kembali sejak bulan Agustus 2020.

“Sejak Agustus 2020 pendapatan mulai meningkat di mana sebelumnya tidak banyak yang memperbaiki sepeda motor dan mobil serta tambal ban,” sebut Yohanes Anderson saat ditemui Cendana News di rumahnya di Patisomba, Kelurahan Wuring, Selasa (3/11/2020).

Son sapaannya menyebutkan, sejak Agustus pendapatan dari bengkel kecil-kecilan di depan jalan raya utama Trans Utara Flores tersebut mulai meningkat hingga mencapai Rp1,5 juta per bulan.

Ia mengatakan, sebelumnya usahanya mendapatkan keuntungan hingga Rp2,5 bahkan lebih dalam sebulannya karena banyak pemilik sepeda motor yang memperbaiki kendaraan mereka.

“Memang sudah banyak yang memperbaiki sepeda motor mereka tapi kadang hanya membayar biaya seadanya saja. Banyak pelanggan yang mengaku kesulitan ekonomi akibat dampak corona sehingga saya juga tidak bisa memaksa,” ungkapnya.

Son mengaku banyak warga di sekitar tempat tinggalnya sering memanfaatkan jasanya namun dirinya tidak bisa mematok harga dan menerima pembayaran seadanya yang diberikan.

Dia pun terpaksa mengandalkan jasa reparasi mesin dan tambal ban untuk menambah pendapatannya dari pengendara yang melintas di jalan raya yang memanfaatkan jasanya.

“Pengendara sudah banyak yang melintas terutama sepeda motor tetapi lebih banyak hanya tambal ban saja sehingga saya manfaatkan waktu luang untuk membuat mesin pencacah batang pisang. Namun saya bersyukur masih bisa memiliki pendapatan untuk menghidupi keluarga,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan Heribertus  pemilik jasa tambal ban lainnya di Kota Maumere yang mengaku pendapatannya mulai meningkat hingga mencapai minimal Rp50 ribu bahkan mencapai Rp100 ribu per harinya.

Heri sapaannya menyebutkan, setiapk kali melakukan tambal ban sepeda motor dirinya mengenakan tarif Rp10 ribu sementara untuk ban mobil Rp20 ribu untuk satu titik lubang di ban.

“Kadang sehari minimal ada 5 sepeda motor yang meminta ban mereka ditambal. Lumayanlah daripada tidak mendapatkan pemasukan sama sekali karena sejak wabah corona jalanan jadi sepi karena orang tidak ke luar rumah,” ungkapnya.

Lihat juga...