Usaha Jasa Bongkaran, Harus Jeli Saat Menaksir Barang

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Tumpukan barang bekas pakai, mulai dari pagar besi, lampu, daun pintu, kusen, daun jendela, hingga besi kolom, terlihat di bangunan semi permanen di pinggiran jalan Kol Hardijanto, Trangkil, Gunungpati Semarang.

Barang-barang tersebut merupakan hasil bongkaran rumah, dari profesi jasa bongkar rumah yang ditekuni Ngadiman, si pemilik gudang. Sudah lebih dari 10 tahun, pria paruh baya tersebut, berkecimpung di usaha tersebut.

Sudah tidak terhitung lagi rumah yang dibongkar, kemudian beragam barang hasil bongkaran tersebut dijual kembali. Tentu saja, yang masih layak pakai.

“Isi bongkaran macam-macam. Tergantung dari kesepakatan pemilik rumah. Saat bongkaran, ada tiga hal yang mungkin terjadi. Pertama saya dibayar pemilik rumah untuk membongkar, kedua, fivety-fivety, artinya bayaran bongkar hanya separuh namun barang saya ambil sebagian, atau ketiga, saya yang bayar pemilik rumah, dengan seluruh hasil bongkaran saya ambil,” terang Ngadiman, saat ditemui di gudang miliknya, Selasa (10/11/2020).

Ngadiman, saat ditemui di gudang bongkaran miliknya, Selasa (10/11/2020). -Foto Arixc Ardana

Dipaparkan, dalam bongkaran tersebut, dirinya harus bisa jeli menaksir barang yang dibongkar, termasuk barang-barang apa saja yang bisa dijual kembali.

“Saya lihat dulu kondisi bangunanannya, baru bisa menentukan harga tawar. Bisnis ini, untung ruginya tidak bisa diprediksi, kadang untung, terkadang juga rugi,” terangnya.

Saat melihat kondisi bangunan dan segala isi didalamnya. Dirinya kemudian bisa memprediksi biaya operasional, mulai upah tenaga harian, angkutan dan biaya lainnya.

“Termasuk waktu pembongkaran harus diperhitungkan. Misalnya, bangunan tersebut harus selesai dibongkar dalam seminggu, waktunya harus pas, kalau molor, biaya pembongkaran bisa meningkat, saya yang rugi,” tambahnya.

Mengenai barang bongkaran, hampir semua yang bisa dijual kembali, akan ditawarkan ke pembeli. Misalnya besi kolom atau besi cor beton.

“Ada pemilik rumah yang ingin semuanya bersih, termasuk cor beton yang ada, tiang-tiang beton. Ya semua kita bersihkan, dibongkar, besi cor yang ada diambil, nanti dijual lagi. Masih tetap laku,” ungkapnya.

Ngadiman mengaku sudah membongkar berbagai macam bangunan, mulai dari rumah kayu hingga rumah bertingkat, dari pinggiran kota hingga tengah kota Semarang, bahkan hingga luar daerah.

“Kalau rumah kayu, paling banyak di wilayah Gunungpati. Masih banyak rumah tua, peninggalan era dulu. Biasanya kalau rumah kayu ini, dulu yang punya pasti pejabat. Minimal carik atau lurah,” terangnya.

Di satu sisi, dengan rata-rata rumah atau bangunan yang dibongkar tersebut rumah tua atau terlantar, dirinya mengaku selalu meminta izin terlebih dulu.

“Ya seperti kata orang-orang tua dulu, sebelum masuk rumah yang akan dibongkar pasti salam dulu. Biar proses pembongkarannya lancar,” tegasnya.

Sementara, salah seorang pembeli, Dian, mengaku tengah mencari besi kolom, untuk perbaikan rumah miliknya.

“Kebetulan mau menambah satu ruangan lagi, jadi butuh besi kolom untuk tiang beton. Jadi mencari disini. Harganya lebih murah, dibanding harus beli baru lagi. Untuk kekuatan juga relatif sama, tinggal pilih besi yang tidak keropos,” terangnya.

Diakuinya, keberadaan gudang bongkaran tersebut membantu dirinya, untuk memenuhi kebutuhan papan, dengan keterbatasan dana yang dimiliki.

“Beberapa waktu lalu, saya juga beli toilet duduk bekas, disini. Setelah dibersihkan, dan diganti dudukannya, juga bisa berfungsi dengan normal. Harganya sepertiga dari harga baru di toko, jadi lebih terjangkau,” pungkasnya.

Lihat juga...