Usaha Tambak Serap Tenaga Kerja Pesisir Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Puluhan warga di pesisir Timur Lampung Selatan menyeret jaring untuk proses panen udang vaname. Lahan tambak milik Susilo di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi memasuki tahap pemanenan setelah usia 4 hingga 5 bulan. Tambak tradisional sebanyak dua petak miliknya dipanen secara total melibatkan puluhan tenaga kerja.

Penyerapan tenaga kerja pada sektor usaha tambak menurut Susilo bisa mencapai puluhan orang. Pada satu petak ia membutuhkan sebanyak 10 hingga 20 orang sesuai kebutuhan. Proses panen kerap akan dilakukan dengan penyiponan memakai alat penyedot kotoran udang dan lumpur. Butuh waktu satu hari proses panen hingga penyiponan membersihkan endapan kotoran udang dan lumpur.

Pertambakan tradisional sebutnya menjadi peluang penyerapan tenaga sistem padat karya. Alternatif yang diberikan oleh pemilik untuk proses panen dengan sistem borongan dan Hari Orang Kerja (HOK). Sistem borongan sebutnya bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2juta sesuai luasan tambak. Sementara untuk sistem HOK setiap tenaga kerja mendapat upah Rp100.000 per hari.

“Luas satu petak atau kami kenal perlembar tambak bisa mencapai satu hektare membutuhkan waktu panen selama setengah hari memakai alat penyedot mesin, pekerja membutuhkan jaring untuk menggiring udang yang akan dipanen,” terang Susilo saat ditemui Cendana News, Selasa (3/11/2020).

Dalam satu hektare usaha tambak tradisional dengan sistem tradisional Susilo bilang butuh waktu 20.000 benih atau benur. Sistem gelondongan setelah empat bulan ia bisa mendapat hasil panen sekitar 300 hingga 500 kilogram. Harga perkilogram Rp50.000 saja dengan hasil panen 500 kilogram ia bisa mendapatkan Rp25juta sekali panen. Sebagian hasil penjualan digunakan untuk upah tenaga kerja,pakan dan bibit.

Sistem padat karya dalam pemanenan udang hingga penyiponan menurut Susilo jadi sumber penghasilan warga. Sebab sebagian warga merupakan tetangga yang tidak memiliki tambak namun masih tetap bisa menikmati hasil usaha tambak. Selain mendapat hasil berupa upah,pemilik tetap memberi bagian hasil panen udang dan ikan bandeng.

“Sistem tambak tradisional kerap pemilik memelihara udang vaname bersama dengan bandeng sehingga hasilnya maksimal,” cetusnya.

Samadi,satu dari pekerja proses panen udang menyebut sebagai buruh ia rutin mencari informasi tambak yang akan panen. Lapangan pekerjaan atau usaha panen kerap memiliki ketua kelompok pekerja yang akan mengajaknya bekerja. Ketua pekerja akan melakukan kesepakatan dengan pemilik terkait sistem upah yang akan diberikan.

“Kami lebih menyukai sistem borongan karena tidak terikat waktu dengan hasil rata rata Rp100.000 per hari,” bebernya.

Pekerjaan memanen udang sebutnya akan dilakukan hingga proses penyiponan. Namun sebagian pemilik tambak memilih melakukan penyiponan sepekan setelah panen. Sistem tersebut masih akan memberi sumber penghasilan bagi pekerja seperti dirinya. Saat panen ia bisa mendapat hasil dan ketika proses penyiponan bisa mendapat upah tambahan.

Sebagai warga pesisir timur Lamsel, Samadi mengaku tidak bekerja sebagai nelayan. Keterbatasan modal berimbas ia tidak memiliki perahu berimbas pekerjaan sebagai buruh jadi pilihan. Ia bahkan kerap diberi tanggung jawab untuk menjaga tambak, memberi pakan oleh pemilik tambak asal luar daerah. Sebab sebagian tambak dimiliki investor milik pemodal dari Jakarta dan wilayah lain.

Pemilik tambak lain bernama Nurdiono di desa yang sama mengaku sektor tambak udang jadi peluang usaha bagi warga. Memiliki pekerjaan sampingan membuat tugas untuk menjaga tambak,merawat kondisi air,memberi pakan dilakukan oleh pekerja. Satu areal tambak ia kerap membutuhkan sebanyak dua tenaga kerja. Pekerja akan tinggal di gubuk yang telah disiapkan.

“Kepemilikan tambak akan menjadi sumber mata pencaharian bagi warga lain sehingga ikut membuka peluang terbukanya lapangan pekerjaan,” cetusnya.

Pemilik tambak tradisional bernama Agus di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni mengaku tenaga kerja sangat dibutuhkan. Sebab selama ini pengelolaan tambak dilakukan dengan sistem tradisional. Sistem gotong royong menggunakan tenaga kerja sebutnya sangat cocok untuk sistem padat karya.

“Sistem padat karya tentunya jadi alternatif berbagi hasil panen sekaligus berbagi rejeki saat panen udang vaname,” beber Agus.

Mendapatkan upah sebesar Rp100.000 perhari dengan banyaknya tambak di wilayah pesisir akan beri pendapatan bagi warga. Bekerja selama sepuluh hari saja setiap pekerja bisa mendapat hasil Rp1juta. Selain hasil uang dari upah bekerja ia kerap mendapat bagian udang untuk dibawa pulang. Sistem berbagi menjadi keberlangsungan tambak tradisional di wilayah tersebut.

Terbukanya peluang tenaga kerja diakui Sairun yang menjadi penyedia jasa angkut. Sebagai tukang ojek udang memakai drum ia bisa mendapat upah sekitar Rp100.000 sekali panen. Saat masa panen bertahap ia bisa mendapat sumber penghasilan dari jasa yang dilakukan. Selama tambak beroperasi ia bisa mendapat lapangan pekerjaan mengandalkan motor yang dimodifikasi.

Lihat juga...