Warga Lereng Merapi Panen Kayu Untuk Bekal Mengungsi

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Sejumlah warga di kawasan lereng gunung Merapi, kabupaten Sleman, mulai memanen dan menjual komoditas hasil perkebunan/hutan mereka untuk mengantisipasi bencana erupsi, yang diprediksi akan terjadi tak lama lagi. 

Terlebih, aktivitas vuklanik gunung Merapi saat ini terus meningkat ditandai dengan perubahan status dari Siaga level II ke Waspada level III, sebagamana dikeluarkan Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta sejak awal November lalu.

Salah satu hasil perkebunan yang dipanen adalah kayu Sengon. Sebagian warga mulai memanen komoditas hutan dengan nilai jual cukup tinggi ini, agar tidak rusak terkena erupsi, khususnya yang berada di radius zona 5 kilometer dari puncak.

Supri, warga lereng gunung Merapi desa Glagahharjo, Cangkringan Sleman, Yogyakarta, Rabu (18/11/2020). –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Ya, sebagian warga sudah mulai menjual pohon-pohon di lahan mereka. Terlebih untuk pohon-pohon yang ukurannya besar dan memiliki nilai jual tinggi. Karena kan sayang kalau sampai rusak terkena erupsi,” ujar salah seorang warga Glagahharjo, Cangkringan, Sleman, Supri, Rabu (18/11/2020).

Supri menyebut, warga menjual pohon-pohon kayu berupa Sengon itu, salah satunya untuk persiapan mengungsi. Pasalnya saat mengungsi, mereka membutuhkan biaya untuk mencukupi kebutuhan selama berada di kawasan pengungsian.

“Namanya mengungsi kan tidak tahu sampai kapan. Jadi, ya harus punya bekal uang cukup untuk pegangan. Selain menjual ternak, warga biasanya juga menjual hasil hutan/perkebunan mereka,” katanya.

Menurutnya, satu pohon sengon berusia 15 tahun dengan diameter 50 centimeter bisa laku dijual hingga Rp5juta. Sementara jika dijual dalam bentuk kayu jadi atau rajangan, harganya bisa lebih mahal.

Di kawasan lereng gunung Merapi, mayoritas warganya banyak menanam pohon sengon karena dinilai paling cocok dengan kondisi tanah yang ada. Sementara komoditas kayu lainnya, seperti Jati, dinilai kurang cocok dengan struktur tanah yang cenderung basah.

“Sayangnya, pohon-pohon sengon milik warga saat ini belum banyak yang berukuran besar. Karena usianya baru sekitar 10 tahun. Sejak erupsi 2010 lalu, semua pohon yang ditanam warga di lahan masing-masing telah lenyap terkena erupsi,” bebernya.

Lihat juga...