Warga Mimika Masih Banyak yang Kurang Percaya Keberadaan COVID-19

Virus Corona (COVID-19). ANTARA

TIMIKA – Jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua mengakui, hingga kini masih banyak warga di wilayah itu yang kurang percaya dengan keberadaan wabah pandemi COVID-19. Meski pandemi telah merenggut nyawa ratusan ribu bahkan jutaan orang di seluruh dunia.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Mimika, Obet Tekege mengatakan, mayoritas warga asli Papua di Mimika sama sekali tidak percaya adanya COVID-19. Hal itu menjadi salah satu hambatan terbesar bagi petugas kesehatan, untuk melakukan penelusuran kontak erat pasien terkonfirmasi positif.

Terutama di kalangan anggota keluarga dan kerabat warga tersebut. “Sampai saat ini masyarakat asli Papua tidak percaya akan adanya virus corona, mereka menganggap virus itu dibawa dari luar. Ini tentu menjadi hambatan, karena secara data sebagian orang asli Papua di Mimika kini terpapar virus corona,” kata Obet.

Kepala Seksi P2M pada Dinkes Mimika, Obet Tekege – Foto Ant

Obet, yang dipercaya menjadi Ketua Tim Tracing Kontak COVID-19 Kabupaten Mimika mengatakan, ketidakpercayaan warga terhadap adanya pandemi COVID-19 justru memunculkan stigma bagi para pasien dan keluarganya. Bahkan, petugas penyelidikan epidemiologi, yang sehari-hari harus melakukan penelusuran kontak, harus selalu dihadapkan dengan sikap tidak simpatik dari warga.

“Kami dicaci maki habis-habisan oleh warga, bahkan rekan-rekan kami dilempari batu. Mereka menuding saya seolah-olah Tuhan, karena menentukan apakah seseorang terpapar COVID-19 atau tidak. Masyarakat mengancam mendatangi dan akan merusak rumah saya,” cerita Obet.

Ia menyatakan, warga yang tidak percaya dengan wabah COVID-19, tidak saja yang bermukim di pinggiran Kota Timika seperti Kwamki Lama, SP13, SP7 dan lainnya. Tetapi juga warga yang ada di Kota Timika. “Apalagi yang tinggal di rumah-rumah kost, itu paling susah untuk ditemui oleh petugas kami, karena mereka takut akan adanya stigma dari tetangga yang lain,” tuturnya.

Dengan kondisi seperti itu, pasien positif COVID-19 yang diminta melakukan isolasi mandiri, akhirnya tidak jujur kepada tim penyelidikan epidemiologi Dinkes Mimika. Mereka memberikan keterangan alamat rumah yang tidak jelas. “Mereka melaporkan alamat yang salah, ketika kami datang ke alamat yang diberikan itu, tidak ada warga di sekitar itu yang mengenal yang bersangkutan. Ada juga yang memberikan alamat jelas, namun saat didatangi petugas yang bersangkutan tidak ada di rumahnya,” kata Obet.

Ia berharap, warga harus berani menghilangkan sikap acuh tak acuh terhadap pandemi COVID-19. Salah satunya dengan dan tidak menstigma pasien COVID-19 dan keluarganya. Agar wabah bisa segera diputus mata rantainya.

Mimika merupakan daerah dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi kedua di Provinsi Papua setelah Kota Jayapura. Tercatat, jumlah warga terpapar mencapai lebih dari 2.500 orang. Sekitar 2.100 orang diantaranya sudah dinyatakan sembuh. Hingga kini warga yang dilaporkan meninggal dunia akibat COVID-19 di Mimika berjumlah 25 orang. (Ant)

Lihat juga...