Wawali Bekasi Dorong Rekayasa Manajemen Pertanian Perkotaan

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat,  terus menggenjot hasil produksi pertanian di wilayah perkotaan untuk menjaga ketahanan pangan,. Jika terjadi kenaikan harga, maka warga sudah punya kemampuan untuk saving.

“Menurut saya, ada persoalan jangka panjang terkait dengan bahan pangan. Perlu adanya rekayasa manajemen yang baik dalam hal pertanian. Jangan sampai kemudian bereskalasi pada harga,” kata Tri Adhianto, Wakil Wali Kota Bekasi, kepada Cendana News, Senin (23/11/2020).

Saat ini diketahui, Wakil Wali Kota Bekasi, concern memberi perhatian di bidang pertanian baik cara hidroponik atau konvensional dengan memberi bantuan ataupun sekadar hadir berkunjung untuk memberi motivasi bagi petani di Kota Bekasi.

Mas Tri sapaan akrabnya, mengaku ingin mendorong petani di perkotaan agar memiliki produksi, tetapi kemudian bisa diserap oleh pasar. Dia berpendapat, jika harga sudah naik berarti kebutuhan orang untuk belanja menjadi tinggi sehingga mereka (petani-red.) punya kemampuan untuk saving.

“Saya terus mendorong bagaimana warga memiliki produksi di bidang pertanian yang kemudian bisa diserap oleh pasar,” tukasnya.

Menurutnya pertanian bisa berkolaborasi dengan lingkungan. Ketika ada satu produk yang kebetulan bisa membantu menurunkan volume sampah dengan cara beternak maggot sebagai bahan pakan alternatif bagi peternakan ikan dan lainnya. Sehingga bisa menghasilkan untuk income bagi keluarga.

Diakuinya pemerintah melalui Dinas Pertanian tetap memperhatikan kelanjutan pertanian di Kota Bekasi dengan mendistribusikan bantuan seperti pompa air dan lainnya di beberapa kelompok tani dalam memudahkan kinerjanya.

Kota Bekasi, kata dia, memiliki lahan sawah seluas 434 hektare yang tersebar di 10 kecamatan, sedangkan lahan kering yang digunakan untuk perkebunan atau ladang seluas 4.285 hektare tersebar di 12 kecamatan.

Sesuai data Dinas Pertanian, pada tahun 2019 Kota Bekasi menghasilkan produksi hasil pertanian mencapai 4.663,7. Sedangkan hasil pertanian berupa komoditi palawija seperti jagung seluas 19 hektar edengan produksi mencapai 65,9 ton atau produktivitasnya mencapai 34,7 kuintal per hektare.

“Dari populasi yang ada, sebagian besar warga Kota Bekasi mayoritas memiliki keahlian di bidang pertanian dan peternakan, dari kompetensi yang ada Pemerintah Kota Bekasi akan terus men-support bagi para kelompok tani untuk lebih produktif lagi,” ujarnya.

Tri berharap, kelompok tani dapat terus produktif menghasilkan produksi hasil pertanian, terus meningkatkan kualitas, dan terus berinovasi sebagai bentuk penyesuaian keadaan.

Jika dulu petani bertani di ladang, tapi sekarang  beralih ke urban farming, petani bertani menggunakan metode hidroponik, tidak menutup kemungkinan di era selanjutnya kita masuk ke exotic farming.

Lihat juga...