Wogi, Sambal Favorit NTT dari Ikan Mbarase

Editor: Koko Triarko

MAUMERE- Ikan Mbarase merupakan ikan kecil yang banyak muncul di laut di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka,Nusa Tenggara Timur, sekitar Bulan Oktober sampai Desember setiap tahunnya.

Ikan ini dibersihkan lalu diawetkan menggunakan garam dan dimasukkan ke dalam botol. Kemudian ditutup rapat, sehingga bisa bertahan hingga setahun dan bila hendak dimakan dan dijadikan sambal baru, diolah.

“Untuk memakannya, ikan Mbarase yang diawetkan dan dinamakan Wogi tersebut diambil sedikit, lalu diolah untuk dimakan dengan nasi dan lauk pauk,” kata Inasensia Dua Kuben, warga Kecamatan Mego, saat ditemui Cendana News di Maumere, Sabtu (14/11/2020).

Inasensia Dua Kuben, warga Desa Ghera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di Kota Mumere, Sabtu (14/11/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Inasensia menjelaskan, Wogi dahulu diawetkan dengan cara dimasukkan ke dalam batang bambu yang sudah dibersihkanterlebih dahulu bagian dalamnya, lalu ditutup rapat.

Untuk memakannya, kata dia, bahan-bahan yang disiapkan untuk menjadi sambal yakni bawang merah, lombok, kemangi dan jeruk nipis, sementara untuk mengawetkan hanya menggunakan garam saja.

“Untuk membuat sambal, bawang merah dan lombok diiris kecil-kecil terlebih dahulu, sementara kemangi diambil daunnya dan dipotong kecil. Campur irisan bawang merah, lombok dan kemangi lalu masukkan Wogi dan aduk hingga merata,” ungkapnya.

Inasensia melanjutkan, setelah itu ambil jeruk nipis dan potong lalu peras air jeruk nipis ke atas campuran Wogi, kemangi, cabai dan bawang merah sambil diaduk hingga merata, lalu diamkan selama sekitar 15 menit baru dimakan.

Ia menyebutkan, sambal Wogi ini juga biasa dimakan dengan pisang dan singkong rebus atau bakar, dan Wogi biasa dijual di pasar-pasar tradisional di Kecamatan Paga dan di Kota Maumere.

“Satu botol berukuran 600 mililiter biasa dijual dengan harga Rp15 ribu. Banyak juga yang membeli Wogi untuk dikirimkan kepada sanak keluarga di luar Kabupaten Sikka,” ungkapnya.

Warga Kecamatan Paga,Theresia Sila, yang menjual Wogi di TPI Alok Maumere, mengaku memiliki stok Wogi hingga 200 botol, selain memiliki stok sendiri, sebanyak 70 botol sisanya dibeli dari warga di Paga.

Tres, sapaannya, mengaku membeli Wogi dari warga di Kecamatan Paga dengan harga Rp10 ribu per botol, dan dirinya menjual kembali di TPI Alok seharga Rp15 ribu per botol.

“Banyak warga di Kota Maumere yang setiap hari membeli Wogi. Dalam sehari, saya bisa menjual Wogi hingga 20 botol sambil berjualan garam di TPI Alok Maumere,” ungkapnya.

Tres pun mengaku banyak sanak keluarganya yang menetap di Kabupaten Ende dan wilayah kecamatan lain di Kabupaten Sikka setiap tahun selalu memesan Wogi untuk dikirimkan kepada mereka.

Lihat juga...