Lebaran CDN

1.800 Kasus DBD di Sikka, 16 Orang Meninggal Dunia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tergolong tinggi,  selama kurun waktu Januari hingga Desember 2020 tercatat sudah mencapai 1.800 kasus.

Jumlah penderita DBD selama tahun 2020 tercatat meningkat drastis bila dibandingkan dengan tahun 2019 dengan jumlah kasus sebanyak 620 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 13 orang.

“Tahun 2020 sejak Januari hingga Desember sudah terdapat sekitar 1.800 kasus dan 16 orang meninggal dunia,” kata Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus, saat ditemui Cendana News di kantornya di Kota Maumere, Jumat (18/12/2020).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus, saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Jumat (18/12/2020). Foto: Ebed de Rosary

Petrus menyebutkan, angka DBD di Sikka di bulan Desember 2020 memang ada kenaikan kasus, tetapi jumlahnya tidak signifikan dibandingkan dengan bulan Desember 2019 lalu.

Dirinya mengaku, telah menugaskan Tenaga Kesehatan (Nakes) dan relawan turun ke desa dan kelurahan untuk melakukan pemantauan jentik sehingga kasusnya bisa ditekan.

“Tenaga kesehatan kami telah turun ke desa dan kelurahan memantau jentik dan bekerjasama dengan desa dan kelurahan untuk memberantas DBD di wilayah mereka,” ujarnya.

Petrus menjelaskan, pemantauan jentik sudah dilakukan di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok dan Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda.

Dari 3 wilayah tersebut terangnya, di Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok, Kota Maumere, Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 63 persen sehingga berpotensi terjadi kasus DBD.

“Kita harapkan lurah, desa dan kecamatan bergerak cepat. Kami sudah bergerak dan hari Senin nanti akan ada rapat penanganan DBD dengan melibatkan semua aparat desa, kelurahan dan kecamatan,” jelasnya.

Sementara itu, Raymundus Tiwa, warga Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda saat ditemui mengatakan, di wilayahnya memang telah terjadi kasus DBD namun jumlahnya memang masih belum banyak.

Raymond sapaannya mengaku, awal tahun 2020 kasus DBD di wilayahnya meningkat drastis, bahkan dokter dan tenaga perawat pun terkena DBD sehingga mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

“Saya beberapa hari lalu membeli obat untuk tetangga saya yang anaknya terserang demam berdarah. Kalau dilihat, selama musim hujan kasus DBD di wilayah kami pasti meningkat pesat,” ujarnya.

Lihat juga...