Abrasi Air Laut Ancam Rumah Warga Tambaklorok Semarang

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Sudah tiga hari, Slamet Romadhon, warga Tambaklorok Semarang bersama warga yang lain harus berjaga di rumah mereka. Mereka khawatir gelombang laut yang datang, semakin tinggi sehingga menghanyutkan rumah warga.

“Kawasan pantai di Tambaklorok ini, hanya mengandalkan tanggul penahan gelombang, untuk mengatasi gelombang air Laut Jawa. Namun setelah tanggul ambrol, ombak atau gelombang langsung menghantam rumah warga. Kita khawatirkan abrasi semakin meluas,” paparnya, saat ditemui di kampung nelayan Tambaklorok Semarang, Rabu (9/12/2020).

Pihaknya pun berharap pemerintah segera melakukan pembenahan tanggul penahan gelombang. Termasuk ke depan, bisa dilakukan penanaman pohon mangrove untuk membantu memecahkan ombak dan angin.

“Saya sebagai warga, selama ini belum paham betul terkait upaya pencegahan gelombang, termasuk dengan penanaman pohon mangrove. Mudah-mudahan dari pemerintah, bisa membantu. Termasuk juga dengan pembangunan kembali tanggul penahan gelombang,” terangnya.

Salah seorang warga, Slamet Romadhon ditemui di kampung nelayan Tambaklorok Semarang, Rabu (9/12/2020). -Foto Arixc Ardana

Sejauh ini, akibat gelombang tinggi yang disertai rusaknya tanggul penahan gelombang, menyebabkan 13 rumah di kampung nelayan tersebut, rusak. Termasuk rumah milik Slamet Romadhon, yang kini hanya tinggal sepertiga bagian.

“Kena gelombang tinggi,yang terjadi pada Senin (7/12/2020) dini hari. Rumah dari dari semula panjang sekitar  17 meter, kini tinggal tujuh meter. Kamar sampai dapur hilang, yang tersisa hanya ruang tamu,” tambahnya.

Sementara, Ketua  RT 01 RW 15 Kelurahan Tambaklorok, Sutrisno mengatakan ada 13 rumah di lingkungannya yang rusak akibat diterjang ombak. Rata-rata kerusakan adalah dinding rumah  ambrol, dengan kerusakan terparah terjadi di tiga rumah, yang hilang sebagian.

“Saat kejadian ketinggian gelombang, sekitar tiga hingga emper meter. Setelah tanggul pemecah gelombang roboh, gelombang air laut langsung menghantam rumah warga, sehingga ambrol. Panjang tanggul sekitar 250 meter, sementara sisanya kini hanya sekitar 75 meter, atau roboh sepanjang 175 meter,” ungkapnya.

Terpisah, pengamat lingkungan Undip Fuad Muhammad saat dihubungi memaparkan keberadaan hutan mangrove, sangat diperlukan dalam menahan atau memecah gelombang. Untuk itu, keberadaannya harus dihidupkan kembali, termasuk di wilayah Tambaklorok Semarang.

“Adanya alih fungsi lahan menjadi tambak atau pemukiman, mengakibatkan vegetasi mangrove menjadi berkurang. Imbasnya, gelombang yang datang tidak ada yang menahan, hingga terjadi abrasi. Untuk itu, reboisasi atau penanaman kembali kawasan pesisir dan merawat tanaman mangrove menjadi keharusan,” tandasnya.

Sementara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang juga sudah mengeluarkan peringatan dini, terkait potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jateng dalam periode tanggal 6 -11 Desember 2020.

Berdasarkan analisis kondisi dinamika atmosfer, menunjukkan masih adanya shear line atau belokan angin di wilayah Jateng, pusat tekanan rendah dan garis palung tekanan rendah di selatan. Selain itu juga ada fenomena MJO (Madden Julian Oscillation), berupa pergerakan sistem konvektifitas udara skala besar di atmosfer.

Dari pantauan tersebut, potensi cuaca ekstrem dan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah di Jateng.

“Kita minta masyarakat untuk berhati-hati dan waspada, terkait potensi cuaca ekstrim, dan dampak yang ditimbulkannya, termasuk bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, angin kencang, gelombang tinggi, tanah longsor, hingga pohon tumbang,” terang Kepala BMKG Ahmad Yani Semarang, Achadi Subarkah Raharjo.

Lihat juga...