Ahli: Suhu Permukaan Laut Pengaruhi Potensi Siklon Tropis

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Hampir sepekan lamanya, berbagai wilayah Indonesia mengalami curah hujan yang cukup ekstrem dan kerap terjadi saat malam menjelang dini hari. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang berpotensi menghasilkan bibit siklon tropis.

Ahli Oseanografi Widodo Setiyo Pranowo menyebutkan suhu permukaan laut meningkat menjadi lebih hangat, akan memanaskan udara di atasnya, dan berpotensi menghasilkan bibit siklon tropis.

“Suhu permukaan laut antara 29-30 derajat Celsius berpotensi membangkitkan energi panas sekitar 140 hingga 240 kJ/cm^2 (red: kilo Joule per sentimeter persegi) yang diperkirakan berpotensi untuk membangkitkan benih-benih siklon tropis,” kata Widodo saat dihubungi, Rabu (16/12/2020).

Ahli Oseanografi Terapan, Widodo Setiyo Pranowo saat dihubungi, Senin (7/12/2020). -Foto Ranny Supusepa/Dok. Widodo SP

Ketika La Nina, lanjutnya, suhu permukaan laut cenderung meningkat panas atau hangat, sehingga meningkatkan probabilitas menumbuhkan benih-benih siklon tropis.

“Air laut panas lalu mengimbas kepada udara di atas permukaan laut, sehingga terjadilah perbedaan tekanan udara di atas permukaan laut dengan lapisan udara yang lebih ke atasnya lagi,” ucapnya.

Berdasarkan basis data, biasanya yang menjadi lokasi penumbuh bibit siklon tropis itu adalah Samudera Pasifik Barat sebelah utara Papua dan Laut Banda.

“Bibit yang tumbuh di Laut Banda kemudian membesarnya sudah keluar dari wilayah perairan Indonesia, lari ke arah selatan. Salah satunya, pernah terjadi menghantam pesisir barat Australia,” urainya.

Bibit yg tumbuh di Samudera Pasifik Barat di utaranya Papua, bisa jadi lari ke utara.

“Atau lari ke barat melewati Laut Sulawesi terus ke Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara,” ucapnya.

Saat dihubungi terpisah, Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, M.Sc, memaparkan berdasarkan penelitian bahwa badai tropis dapat terbentuk bila dipenuhi beberapa syarat.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, M.Sc, saat dihubungi, Rabu (16/12/2020). -Foto Ranny Supusepa/Dok. Siswanto

“Yang utama adalah adanya suhu permukaan laut sekitar 27°C dan lebih hangat dari sekitarnya,” kata Siswanto.

Syarat lainnya adalah adanya beda arah dan kecepatan angin atau disebut ‘geser angin’ pada ketinggian yang berbeda di bagian atmosfer bawah (low level vertical wind shear) disertai dengan potensi kepusaran udara yang cukup besar dalam cakupan yang luas.

Hasil penelitian beberapa dekade terakhir, ungkapnya, telah menunjukkan bahwa di beberapa wilayah samudera telah terjadi penghangatan permukaan laut sebesar 0.25° – 0.5°C.

“Karena laut dapat menyimpan panas lebih lama daripada daratan dan atmosfer, maka akumulasi sumber energi dan penguapan oleh kolom air laut yang lebih hangat juga lebih besar,” ujarnya.

Ia menyatakan ada hubungan timbal balik antara laut dan atmosfer. Yaitu bila laut memanas maka akan memanaskan atmosfer diatasnya dan sebaliknya.

“Tetapi umumnya yang paling dominan menjadi pemantik panas lautan adalah energi radiasi matahari tersimpan oleh permukaan dan bawah permukaan lautan dengan semua propertiesnya yang dinamis,” pungkasnya.

Lihat juga...