Ahli: Vaksin Covid-19 Bukan Kunci Instan Penanganan Pandemi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pasca-kedatangan vaksin Sinovac ke Indonesia, timbul berbagai pertanyaan mengenai keefektifan vaksin tersebut di Indonesia. Terutama pada sektor distribusi vaksin kepada pengguna dan benarkah vaksin ini akan menjadi jalan keluar dari pandemi ini.

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Giovanni van Empel menyatakan ada beberapa pertanyaan yang timbul dari strategi implementasi vaksin yang disampaikan pemerintah.

“Pertanyaan utamanya adalah bagaimana memastikan vaksin dapat diterima oleh orang-orang yang betul-betul memerlukan. Kalau kita melihat pada statement yang selalu muncul dari pihak berwenang, bahwa yang pertama menerima vaksin adalah kelompok usia produktif dengan pertimbangan kelompok ini bisa kembali bekerja tanpa indikasi menularkan,”  kata Gio dalam acara diskusi online Kesehatan, Jumat (25/12/2020).

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Giovanni van Empel saat diskusi online kesehatan, Jumat (25/12/2020). -Foto Ranny Supusepa

Tapi imbuhnya, data menunjukkan vaksin itu efektif dalam konteks memunculkan respon imun dalam arti orang yang mendapatkan vaksin bisa melindungi dari kondisi yang berat. Tidak ada bukti bahwa itu akan efektif untuk mencegah transmisi.

“Dalam artian, orang yang asimptomatik bisa menularkan pada yang lain walau sudah divaksin. Artinya masih bisa menularkan kan?,” tandasnya.

Dengan kondisi tersebut, Gio menyatakan akan muncul pertanyaan berikutnya. Yaitu bagaimana melindungi kelompok umur yang rentan.

“Data di Indonesia sendiri, proporsi kelompok usia diatas 55 tahun yang tinggal bersama anaknya itu hampir 60 persen pada jenis kelamin laki-laki atau seorang ayah dan 70 persen pada jenis kelamin perempuan atau seorang ibu di 2007. Dan setiap tahun angka ini meningkat. Jadi jika diberikan kepada kelompok produktif, padahal kelompok produktif tersebut tinggal dengan kelompok yang rentan ini akan menyebabkan permasalahan,” ucapnya.

Selanjutnya Gio juga mempertanyakan bagaimana caranya orang yang melakukan pengantaran vaksin bisa terlindungi dan orang-orang yang akan mendapatkan vaksin bisa terlindungi.

“Bagaimana caranya agar mereka yang akan divaksin bisa terlindungi? Lalu bagaimana dengan orang yang enggan untuk datang ke pusat layanan kesehatan, yang mayoritas merupakan kelompok ekonomi rendah. Kalau ini tidak dipedulikan maka potensi kelompok ekonomi rendah untuk semakin tertinggal terkait masalah vaksin ini,” ucapnya lagi.

Atau, lanjutnya, jika petugas medis yang mendatangi rumah masing-masing bagaimana mekanismenya dan bagaimana penyimpanan vaksinnya, serta butuh berapa lama waktu yang untuk memberikan vaksinasi ini.

Ahli Biologi Molekuler Ines Atmosukarto menyampaikan bahwa dirinya menangkap dari respon masyarakat terhadap vaksin, ada harapan yang sangat besar pada kehadiran vaksin ini sebagai kunci penyelesaian pandemi ini.

“Vaksin itu sebenarnya bukan tameng dari masalah yang ada saat ini. Yang menjadi tameng itu adalah lancarnya proses vaksinasi. Jadi jika vaksin itu ada manfaatnya jika ia digunakan pada target yang tepat dan ini perlu dikomunikasikan secara lebih baik kepada semua masyarakat,” ucapnya.

Ahli Biologi Molekuler Ines Atmosukarto saat diskusi online kesehatan, Jumat (25/12/2020). -Foto Ranny Supusepa

Dengan terbukanya informasi di masa sekarang, lanjutnya, banyak sekali yang berfokus pada angka efikasi yang diterbitkan sehingga terjadi fiksasi pada angka efikasi yang tinggi.

“Padahal ini menurut saya tidak penting. Yang penting adalah apakah vaksin tersebut tepat bagi kondisi negara yang mempergunakannya,” ujarnya.

Contohnya, vaksin yang dikeluarkan Modena, yang dinyatakan memiliki efikasi tinggi, harus disimpan dalam penyimpanan yang bersuhu sangat dingin. Kalau itu dipergunakan di Indonesia, bagaimana penyimpanan vaksin dilakukan sementara di level puskesmas saja banyak yang tidak memiliki lemari pendingin yang biasa apalagi untuk menyediakan yang bersuhu minus 70 derajat Celcius.

“Jadi jangan hanya ingin vaksin dengan efikasi tertinggi tapi tidak bisa disimpan. Lebih baik, yang efikasi 86 tapi vaksinnya bisa disimpan dalam lemari pendingin milik puskesmas. Di sini pentingnya komunikasi pada publik,” ujarnya lagi.

Dan komunikasi publik ini, menurut Ines, juga penting dalam menjelaskan desain uji klinis yang dipergunakan pada vaksin.

“Pada desain uji klinis vaksin Modena dan Pfizer digunakan pengolahan data yang bisa membaca kecenderungan dari grafik kelompok penerima placebo dan grafik kelompok penerima vaksin sejak hari ke sepuluh. Sehingga masyarakat bisa mengerti tahapan dan kapan hasil suatu uji klinis bisa diwartakan,” pungkasnya.

Lihat juga...