Akademisi: Indonesia Harus Menggali Dampak Positif dari Fenomena Alam

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

“Bukan hanya susur sungai. Mengungkit bencana menjadi dampak positif juga bisa dilakukan dengan gerakan memanen hujan. Yaitu dengan membuat suatu aliran untuk curah hujan masuk ke dalam sumur. Sehingga bisa digunakan pada saat kemarau,” urai Agus lebih lanjut.

Terkait penggunaan air hujan sebagai cadangan air minum, ia menyatakan tak perlu masyarakat khawatir akan kualitasnya.

“Dari penelitian yang sudah dilakukan, ditemukan air hujan ini memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan batasan air bersih yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan pada Permenkes No. 416 tahun 1990, terkait zat padat terlarut, kekeruhan dan warna,” ungkapnya.

Ia juga mengajak kepada para pelaku industri untuk melakukan panen hujan ini dengan memanfaatkan fasilitas di kawasan industri.

“Jadi jangan hanya pompa air tanah saja. Tapi juga harus memanen air hujan dan mengalirkannya ke air tanah. Kebutuhan industri bisa terpenuhi,” katanya tegas.

Agus menyebutkan ada beberapa sektor yang sudah melakukan pengembangan air hujan ini. Misalnya, Maryati yang menggunakan air hujan untuk beternak lele di Bantul Yogyakarta, perikanan berbasis air hujan di Kulon Progo Yogyakarta atau memanfaatkan air hujan dengan mengubahnya menjadi pupuk dan pestisida alami untuk tanaman buah.

“Harapan saya, jangan kita melihat bencana sebagai mitigasi saja. Tapi kita harus melihat sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara komprehensif sistemik,” tandasnya.

Senada, Guru Besar bidang Perubahan Iklim Institut Pertanian Bogor (IPB) Rizaldi Boer menyatakan bahwa fenomena alam ini memang harus diteliti dan diamati untuk menemukan solusi dan langkah bijak kedepannya.

“Diprediksikan fenomena La Nina yang berlangsung pada 2020 akan berlanjut ke 2021 hingga kembali normal pada pertengahan tahun. Musim hujan diprakirakan berakhir lebih lambat di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur,” kata Boer.

Data juga menunjukkan bahwa peluang hujan akan melampaui 300 mm per bulan untuk periode Januari hingga Maret di kawasan Jawa, sebagian Sulawesi dan Papua dengan potensi hingga 80 persen.

“Ini menunjukkan adanya potensi bencana banjir yang cukup besar. Semua pihak, tidak hanya pemerintah, harus sudah mewaspadai hal ini dan melakukan tindakan yang bisa mencegah bencana ini berdampak negatif,” ucapnya.

Ia menyebutkan bahwa bukan hanya pencegahan bencana tapi melakukan adaptasi yang berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan pada daerah-daerah yang pandemik bencana.

“Misalnya sistem padi apung di Kabupaten Ciamis Jawa Barat dan Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, sehingga tetap bisa melakukan penanaman padi di saat banjir. Atau sistem paludiculture di Kalimantan Selatan,” ucapnya lebih lanjut.

Harapan kedepannya, lanjut Boer, dengan dukungan pemerintah masyarakat yang tinggal di daerah bencana atau pun yang sudah terpapar bencana dapat tetap berjalan kehidupannya.

“Tentunya ada pembinaan dan penerapan teknologi yang sesuai dengan lokasi dan budaya masyarakat, dengan menyelaraskan lingkungan yang ada dengan bencana yang ada,” pungkasnya.

Lihat juga...