Aksi Jual-Gadai Emas di Bandar Lampung, Meningkat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Menjelang natal dan tahun baru, masyarakat di Bandar Lampung mulai banyak yang menggadaikan atau bahkan menjual emas perhiasan untuk berbagai kebutuhan. Hal demikian sudah menjadi kelaziman bagi masyarakat setempat.

Nursalim, salah satu pemilik perhiasan emas, menyebut aksi jual dan menggadaikan emas menjadi hal biasa. Terlebih karena sistem pembelian perhiasan emas dilakukan di toko yang sudah menjadi langganannya. Emas yang berbentuk gelang, cincin dan kalung merupakan hasil kerajinan yang dibuat oleh toko tempatnya menjual. Berbekal wujud fisik perhiasan emas dan surat bukti pembelian,i a bisa menjual dan menggadaikan.

Nursalim bilang, emas menjadi salah satu instrumen investasi jangka panjang baginya. Selain dalam wujud perhiasan, ia juga menyimpan logam mulia itu dalam wujud emas batangan. Tren kenaikan harga emas terjadi sejak empat bulan terakhir, meski mengalami penurunan tidak signifikan. Per gram emas dijual seharga Rp939.000. Harga itu lebih turun dari sebelumnya, Rp1.030.000 per gram.

Nursalim (kanan), salah satu warga Kemiling menggadaikan perhiasan emas di toko Andalas, pasar Bambu Kuning, Tanjung Karang, Bandar Lampung, Selasa (15/12/2020). -Foto: Henk Widi

“Pemilik toko akan menerima perhiasan emas yang juga hasil buatan mereka, dengan surat yang lengkap harganya masih cukup baik dikurangi biaya produksi, jika hanya digadaikan nanti perhiasan emas tersebut masih bisa diambil, karena sementara uang untuk kebutuhan penting,” terang Nursalim, saat ditemui Cendana News, Selasa (15/12/2020).

Nursalim menyebut, pedagang emas kerap telah mengantisipasi aksi jual oleh pelanggan. Kebutuhan yang meningkat saat masa pandemi Covid-19, menurutnya membuat emas menjadi barang berharga. Keputusan menjual emas tersebut telah disepakati bersama sang istri. Kebutuhan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pokok lainnya, menjadi alasan emas miliknya dijual dan digadaikan.

Sementara itu Edwin Harianto, pemilik toko emas, menyebut usaha kerajinan emas perhiasan telah terbiasa dengan tren penjualan oleh masyarakat. Aksi jual tersebut menurutnya kerap dilakukan jelang lebaran Idulfitri, Natal dan Tahun Baru. Aksi jual emas makin terlihat selama pandemi Covid-19. Sebagian toko emas bahkan memilih tutup sejak dua bulan terakhir.

“Saya memilih tetap buka, karena banyak pelanggan menelepon terlebih dahulu, usaha toko emas juga berbasis kepercayaan, siap jual dan siap beli,” bebernya.

Edwin Harianto menyebut, perkonomian masyarakat yang memburuk akibat Corona membuat daya beli masyarakat rendah. Tren membeli emas untuk perhiasan didominasi oleh sejumlah pasangan yang akan menikah. Jenis mas kawin berupa emas, cincin, kalung dan gelang banyak diminta untuk kebutuhan pernikahan. Namun, persentase permintaan membeli lebih rendah dibanding menjual.

Ia mengaku t tetap membuka toko emas untuk melayani pelanggan, karena pelanggan merupakan raja yang harus dilayani. Sebagian besar konsumen terpaksa menjual atau menggadaikan emas karena butuh uang. Kualitas perhiasan emas yang dibuat olehnya cukup diminati, sehingga dalam sehari puluhan konsumen datang.

“Sehari ini sudah ada belasan pelanggan datang, hanya lima orang membeli sebagian menjual emas kembali ke toko kami,”cetusnya.

Emas dengan kadar 23 hingga 24 karat, sebutnya, kerap dijual kembali kepadanya. Sebagai cara mendapat tambahan modal untuk usahanya, ia kerap menggadaikan perhiasan emas ke PT Pegadaian. Ia menyiapkan modal lebih dari Rp150juta untuk berjaga saat pelanggan menjual kembali perhiasan emas. Satu pelanggan kerap menjual beberapa gram emas mulai harga Rp3juta hingga Rp5juta.

Selain toko emas, sejumlah penyedia jasa sepuh emas di blok B pasar Bambu Kuning juga mengalami kelesuan. Sudirja, pemilik usaha penyepuhan emas, menyebut pada kondisi normal ia menerima order hingga belasan orang.  Jasa sepuh emas mulai dari Rp30.000 hingga Rp100.000, tergantung ukuran perhiasan. Penyepuhan emas kerap dilakukan oleh sejumlah wanita untuk perhiasan yang mulai pudar.

“Kami melayani penyepuhan emas, karena banyak yang ingin perhiasan lebih menarik dan bersih,”cetusnya.

Merry, salah satu warga, memilih menyepuh perhiasan gelang dan kalung miliknya. Akhir tahun dengan banyaknya acara pesta pernikahan, ia kerap mendapat undangan. Menyepuh emas menjadi pilihan dibandingkan harus membeli emas baru. Ia bahkanmemilih menjual perhiasan emas yang dimiliki untuk kebutuhan. Ekonomi yang sulit menjadikan emas barang bernilai yang cepat menghasilkan uang.

Lihat juga...