Alih Fungsi Lahan Pemicu Sedimentasi Sungai di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Musim penghujan berimbas volume sedimentasi pada sejumlah sungai di Lampung Selatan meningkat. Sanusi, salah satu nelayan di pantai Tanjung Sembilang, Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut sedimentasi dominan dari lumpur dan material sampah.  Munculnya daratan baru berdampak buruk bagi nelayan. 

“Dampak bagi nelayan tentunya sangat terasa karena aliran sungai yang semakin dangkal berimbas kapasitas air kerap tidak tertampung menimbulkan banjir, bahkan ketika pasang purnama yang terjadi tiga hari terakhir mengakibatkan banjir rob masuk ke perkampungan,” terang Sanusi saat ditemui Cendana News, Rabu (2/12/2020).

Alih fungsi lahan yang tidak bisa meresapkan air saat hujan memiliki dampak terbawanya material tanah ke sungai. Selain tanah, penebangan pohon dan pembersihan limbah pertanian yang dibuang ke sungai dirasakan dampaknya langsung bagi nelayan. Kerusakan jaring kerap terjadi imbas terkena ranting bambu, pohon.

Sanusi, salah satu nelayan di pantai Tanjung Sembilang, Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan alami kesulitan alur perahu imbas perubahan lingkungan oleh pendangkalan muara sungai, Rabu (2/12/2020). Foto: Henk Widi

Sampah dan material endapan lumpur yang terbawa ke aliran sungai sebagian terdampar di pantai. Berbagai jenis sampah di antaranya merupakan plastik yang didominasi botol, gelas air mineral bahkan menjadi tempat berkembangnya nyamuk malaria dan demam berdarah dengue (DBD).

“Selain sedimentasi sungai, banjir disertai sampah juga memiliki dampak negatif berkaitan dengan kesehatan lingkungan,” cetusnya.

Selain di sungai Way Sekampung, sedimentasi terjadi pada alur sungai Pegantungan. Irawan, warga Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni menyebut sejak puluhan tahun silam memiliki lebar 20 meter dan muaranya bisa mencapai 50 meter. Namun alih fungsi perbukitan di wilayah Desa Kelawi dan Desa Bakauheni andil dalam mengakibatkan sedimentasi.

Imbas langsung bagi nelayan, proses tambat perahu tak bisa dilakukan pada alur sungai. Sejumlah perahu tangkap jenis bagan congkel dan kasko hanya bisa sampai di pantai. Sedimentasi telah dilakukan pengerukan memakai alat berat, namun saat penghujan material tanah semakin bertambah.

“Perkampungan nelayan kerap terimbas banjir karena aliran sungai yang dangkal tak bisa menampung debit air,” bebernya.

Sedimentasi pada muara dan aliran sungai sebutnya telah diusulkan ke pemerintah untuk dikeruk. Sungai yang alami sedimentasi meliputi sungai Kepayang, sungai Kubang Gajah, sungai Sumber Muli.

Lihat juga...