Alternatif Pertanian Hijau dengan Minyak Atsiri

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Serangan penyakit atau serangga pada tanaman buah tropika seringkali menyebabkan kerugian pada pihak petani. Tapi jika menggunakan pestisida, selain memakan biaya tinggi juga menimbulkan penolakan saat diekspor. Alternatifnya, adalah menggunakan minyak atsiri yang merupakan penjaga tanaman yang bersifat organik.

Peneliti Hama dan Tanaman Balitbu Tropika, Mizu Istianto, menjelaskan, minyak atsiri adalah metabolisme pada tanaman yang sifatnya mudah menguap dan memiliki sifat menjaga tanaman dari gangguan hama dan penyakit.

“Pemilihan minyak atsiri dalam mencegah serangan hama dan penyakit pada buah tropika karena memiliki efek anti serangga, anti jamur dan anti bakteri. Selain ramah lingkungan dalam artian tidak mencemari lingkungan, berbeda dengan bahan kimia. Aplikasinya juga mudah dan aman,” kata Mizu dalam bincang online, Senin (28/12/2020).

Perbandingan hasil penggunaan pestisida sintetis dengan minyak atsiri pada kasus stem end rot pada mangga, yang disampaikan Mizu dalam bincang online, Senin (28/12/2020) – Foto: Ranny Supusepa

Dan alasan lainnya, adalah bahan minyak atsiri ini mudah ditemukan dan murah harganya.

“Rata-rata per kilogramnya sekitar Rp200 ribu. Sehingga tidak akan memberatkan petani,” ucapnya.

Mekanisme kerja minyak atsiri pada serangga, menurut Mizu, adalah menghambat proses penemuan dan penerimaan inang melalui penolak kehadiran dan penghambat makan.

“Dan mampu membunuh serangga melalui mekanisme perusakan lapisan integumen,” paparnya.

Sementara, bagi cendawan, minyak atsiri bersifat iritasi. Sehingga merusak sel atau menyebabkan perubahan morfologi hifa.

“Dalam mengaplikasikan minyak atsiri pada tanaman buah tropika ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Yaitu interval aplikasi relatif pendek yang hanya enam hari, memerlukan bahan perata untuk melarutkan minyak dalam air dan penyemprotan harus dilakukan secara merata pada pagi atau sore hari,” kata Mizu lebih lanjut.

Dan yang paling penting adalah memperhatikan dosis yang digunakan. Karena jika dosis yang digunakan melebihi ketahanan tanaman maka akan menimbulkan toksisitas yang terlihat pada tanaman sebagai gosong.

“Pada tanaman berdaun keras seperti mangga, manggis, sirsak atau alpukat, dosisnya bisa mencapai 2-3 cc per liter. Tapi untuk tanaman berdaun tipis, seperti melon atau sayuran, harus dicoba dulu dengan dosis 1 cc per liter,” urainya.

Beberapa percobaan lapangan sudah dilakukan dengan menggunakan minyak atsiri. Baik dari cengkeh maupun sereh wangi.

“Misalnya, antraknose pada mangga yang menyebabkan bunga rontok sehingga gagal buah. Dengan menggunakan sereh wangi pada dosis 2 cc per liter yang disemprotkan secara berseling dengan klorotalonil atau propineb dalam interval selang seminggu, menunjukkan perbaikan kondisi bunga,” papar Mizu.

Atau pada kasus stem end rot (busuk buah) pada mangga yang disebabkan jamur, menunjukkan buah yang mendapatkan aplikasi minyak atsiri memiliki jumlah buah yang berbintik lebih sedikit dibandingkan dengan buah yang mendapatkan aplikasi pestisida sintetik.

“Atau pada kasus pohon pisang barangan yang terserang layu filarium, setelah mendapatkan aplikasi minyak atsiri berbasis cengkeh dengan dosis 2 cc per liter sebanyak satu kali, mampu bertahan tumbuh hingga satu tahun. Jika dilakukan beberapa aplikasi maka pohon pisang barangan akan bisa tetap hidup,” paparnya lebih lanjut.

Minyak atsiri berbasis sereh wangi, lanjutnya, juga menunjukkan penurunan signifikan pada jumlah kutu dompolan pada pepaya dan kutu sisik pada buah naga.

“Sebagai pertimbangan kelayakan ekonomi, dilakukan penyemprotan minyak atsiri berbasis sereh pada pohon manggis hutan yang selama ini tidak pernah disemprot. Penyemprotan kita lakukan selama dua tahun. Dan terlihat perubahan kualitas buah pada jumlah lebih dari 50 persen meningkat kualitasnya menjadi grade A. Dalam artian jumlah Organisme Pemangsa Tanaman (OPT) menurun secara drastis, sehingga meningkatkan nilai jual pada pemiliknya,” kata Mizu.

Ia menyebutkan, penelitian pada minyak atsiri ini masih terus berlanjut, untuk menemukan suatu campuran minyak atsiri yang bisa digunakan pada semua OPT.

“Untuk serangga kita menggunakan sereh wangi dan untuk penyakit kita gunakan cengkeh. Nah, kita ingin hanya ada satu tapi bisa untuk semua OPT. Karena itu, saat ini kami mengembangkan paduan cengkeh dan sereh wangi yang mampu mengurangi paparan penyakit dan serangga,” pungkasnya.

Lihat juga...