Angin Barat Sebabkan Gelombang Laut, Tinggi

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Toyo, hanya bisa duduk sembari memandang perahu miliknya yang tertambat di dermaga, yang jaraknya hanya selemparan batu. Sudah sejak Jumat (4/12/2020) lalu, dirinya tidak bisa melaut. Angin barat yang bertiup kencang membuat gelombang laut tinggi hingga 4 meter.

“Nelayan di sini sudah tidak melaut sejak Jumat lalu. Ya, karena angin barat menyebabkan gelombang laut tinggi sampai 2,5 meter. Ini memang siklus tahunan, biasanya terjadi bulan Desember hingga Februari,” paparnya, saat ditemui kampung nelayan, Tambaklorok, Kota Semarang, Rabu (9/12/2020).

Seorang nelayan, Toyo, saat ditemui di kampung nelayan Tambaklorok, Semarang, Rabu (9/12/2020). –Foto: Arixc Ardana

Imbas gelombang tinggi tersebut tidak hanya dirasakannya, namun juga seluruh nelayan di Kota Semarang dan sekitarnya. “Kita menunggu informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cek lewat handphone. Kalau masih ada peringatan gelombang tinggi, ya tidak melaut, kalau sudah aman baru berangkat ke laut lagi,” terang pria berusia 55 tahun tersebut.

Biasanya, lanjutnya, ada masa-masa jeda angin barat berhenti bertiup, waktu tersebut kemudian dimanfaatkan nelayan untuk melaut.

“Ya selain dari informasi BMKG, kita juga melihat tanda alam. Contoh gampang, ya melihat gelombang yang datang ke pantai,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan nelayan lainnya, Suharto. Saat musim angin barat bertiup tersebut, para nelayan tidak berani ambil risiko untuk melaut.

“Kalau dipaksakan, perahu bisa terbalik terhantam gelombang, apalagi kita masih menggunakan perahu tradisional berukuran kecil. Taruhannya nyawa kalau sampai terbalik,” jelas warga Tambaklorok tersebut.

Waktu-waktu tidak melaut ini pun dimanfaatkan untuk memperbaiki perahu, jala hingga rumah tinggal mereka.

“Banyak perahu yang rusak akibat saling tabrak saat di dermaga karena kena ombak. Ada juga yang patah. Ini, ya harus diperbaiki,” lanjutnya.

Di satu sisi, dengan mereka tidak pergi melaut, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan, membuat mereka harus prihatin.

“Ya, terpaksa menggunakan uang simpanan kalau masih punya. Kalau tidak ada, ya utang dulu di warung,” tandas Harto.

Terpisah, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Maritim Semarang, Slamet Wiyono, mengatakan gelombang tinggi ini karena adanya pola angin di wilayah Indonesia bagian utara yang umumnya dari Tenggara sampai Barat Daya, dengan kecepatan 3-20 knot. Pihaknya pun sudah mengeluarkan peringatan gelombang tinggi di perairan laut Jawa.

“Peringatan gelombang tinggi sudah kita keluarkan sejak Jumat (4/12/2020) hingga Rabu (9/12/2020), juga masih tinggi di perairan laut jawa, terutama di perairan Laut Jawa bagian tengah, perairan Karimunjawa, Brebes-Pemalang, Semarang -Demak, Jepara hingga perairan Pati-Rembang, dengan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter hingga 4 meter,” terangnya.

Sementara untuk di perairan Kalimantan tengah bagian barat, tinggi gelombang antara 1,25 meter hingga 2,5 meter.

“Kita mengimbau agar para pelaut dan nelayan, untuk memperhatikan risiko keselamatan dan batas aman dari kapal yang mereka gunakan untuk berlayar,” lanjutnya.

Jika memang harus berlayar, pihaknya meminta agar memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Menurutnya, kapal nelayan disarankan tidak melaut jika tinggi gelombang di atas 1,25 meter dengan batas kecepatan angin lebih dari 15 knot, kapal tongkang jika kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter.

Sementara untuk kapal feri dengan tinggi gelombang di atas 2,5 meter dan kecepatan angin lebih dari 21 knot, serta kapal ukuran besar seperti kargo, jika gelombanng lebih dari 4 meter dan kecepatan angin lebih dari 27 knot.

“Masyarakat yang berada di pesisir diimbau untuk tetap selalu waspada, terutama pada wilayah yang berpeluang gelombang tinggi,” pungkasnya.

Lihat juga...