Angka Covid-19 Tinggi, PTM Jenjang Dikdasmen Jateng Diminta Ditunda

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Angka Covid-19 di kabupaten/kota di Jawa Tengah masih relatif tinggi. Saat ini, secara keseluruhan berdasarkan data corona.jatengprov.go.id, per Kamis (17/12/2020) pukul 12.00 WIB, pasien aktif mencapai 10.482 orang, baik yang dirawat di rumah sakit atau isolasi mandiri.

“Kalau melihat angka Covid-19 di Jateng, termasuk di beberapa wilayah kabupaten/kota yang masuk kategori zona merah. Maka, saya minta agar pembelajaran tatap muka (PTM) pada satuan pendidikan dasar menengah (Dikdasmen) dari PAUD hingga Pendidikan Masyarakat (Dikmas), ditunda,” papar Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di rumah dinas, Puri Gedeh Semarang, Kamis (17/12/2020).

Ditegaskan, melalui edaran bernomor 445/0017480 tersebut, ada empat poin terkait penanganan Covid-19, termasuk meminta agar satuan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP hingga Dikmas untuk menunda PTM.

“Saya minta jangan terburu-buru. Lebih baik ditunda dulu, sembari mempersiapkan sarana prasarana hingga standar operasional prosedur (SOP), yang harus disiapkan dengan maksimal. Jika sekarang sudah punya, maka baru kemudian kita siapkan guru, murid,” tambahnya.

Mengaca dari pengalaman yang sudah terjadi, dari munculnya klaster Covid-19 di sejumlah sekolah di Jateng, termasuk di Kota Semarang, Ganjar menilai harus ada SOP yang benar-benar bisa mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

Lebih jauh dijelaskan,  surat edaran tersebut juga sebagai tindak lanjut dari pemerintah pusat dalam rapat evaluasi penanganan Covid-19 di Jateng, beberapa waktu lalu. Selain itu, karena kondisi pandemi Covid-19 yang belum pasti.

“Sekarang ini kondisinya belum pasti. Angka masih tinggi. Rasa-rasanya kalau Januari 2021 kok belum bisa. Mungkin nanti saat sudah ada penurunan drastis, vaksin sudah dimulai, tapi untuk sekarang belum,” tegasnya.

Pihaknya pun mendorong agar tetap diselenggarakan pembelajaran jarak jauh, dan mengembangkan metode yang inovatif, kreatif, menantang serta menyenangkan peserta didik.

Sementara, empat poin dalam surat edaran tersebut disebutkan, poin pertama, tidak mengizinkan kegiatan penyelenggaraan acara/kegiatan/event perayaan akhir tahun 2020, maupun kegiatan selebrasi kemenangan khususnya bagi daerah yang selesai menyelenggarakan Pilkada, guna menekan peningkatan kasus baru covid-19 di daerah masing masing. Selanjutnya, menunda Pembelajaran Tatap Muka pada satuan pendidikan PAUD, SD, SMP dan Dikmas.

Poin ketiga, mengoptimalkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan mengembangkan metode yang inovatif, kreatif, menantang serta menyenangkan peserta didik. Serta poin ke empat, mendorong penambahan penyediaan atau alokasi tempat tidur ICU dan tempat tidur isolasi untuk pasien covid-19 pada RSUD, RS TNl, RS Polri, RS BUMN dan RS Swasta sesuai dengan rasio jumlah penduduk di wilayah masing-masing.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri, saat dimintai pendapat terkait surat edaran tersebut, pihaknya mengaku akan menggelar rapat untuk membahasnya.

“Namun untuk kemungkinan, PTM tetap akan dilakukan secara bertahap dan berhati-hati. Sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri. Namun nanti kita akan lihat perkembangannya seperti apa, karena keputusan tergantung kepala daerah, dalam hal ini Walikota Semarang,” jelasnya.

Sedangkan, salah satu orangtua siswa, Eka Yulianti, mengaku menyambut gembira terkait adanya edaran penundaan pelaksanaan PTM di Jateng.

“Anak saya masih kelas 3 SD, kemarin sudah ada surat persetujuan dari sekolah, apakah mengizinkan akan mengikuti PTM atau tidak. Saya sendiri memilih tidak menyetujui, kok sekarang ada surat edaran terkait penundaan, tentu saja saya senang,” paparnya.

Diterangkan, dirinya sebagai orangtua, lebih memilih pelaksanaan PJJ dibandingkan dengan PTM, sebab kondisi saat ini dinilai masih rawan Covid-19.

“Kalau pun nanti ternyata dilakukan PTM, biar anak saya tetap PJJ saja. Toh juga diperbolehkan dan memiliki hak yang sama. Kalau tetap masuk, karena ini anak masih kecil, 3 SD, agak sulit untuk mengatur jarak dan lainnya,” pungkas warga Tembalang Kota Semarang tersebut.

Lihat juga...