Awas Jurnal Predator, Cek Sebelum Kirim Publikasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Standar, tata cara dan prosedur penilaian angka kredit dosen, untuk kepentingan pengusulan jabatan akademik fungsional (jafa), memerlukan penyempurnaan yang bersifat mendasar dan menyeluruh.

Hal tersebut mengacu pada UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen, PP No 37/2009 tentang Dosen hingga UU No 12 /2012 tentang Pendidikan Tinggi.

“Merujuk pada perubahan peraturan perundangan terkait, serta dalam konteks menguatkan upaya peningkatan mutu dosen perguruan tinggi, sesuai Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit (PO PAK 2019) terkait kenaikan jafa, salah satunya bisa dilakukan melalui publikasi karya ilmiah,” papar Ketua PGRI cabang khusus UPGRIS, Dr. Joko Siswanto, M.Pd, dalam webinar ‘Penilaian Angka Kredit JAFA Dosen sesuai PO Tahun 2019’, yang digelar secara daring di kampus UPGRIS Semarang, Kamis (17/12/2020).

Meski demikian, publikasi karya ilmiah tersebut, bukan serta merta asal terbit, namun tetap mempertimbangkan kehati-hatian.

“Jangan terburu-buru dan harus cermat, dalam mempublikasikan jurnal dikarenakan ada beberapa jurnal yang terindikasi predator. Untuk itu kita harus dapat mengecek link jurnal tersebut terlebih dulu, agar tidak menjadi korban,” jelasnya.

Jurnal predator tersebut diduga muncul, seiring dengan adanya kewajiban publikasi di jurnal internasional.

“Harus berhati-hati. Peneliti yang terburu-buru dalam publikasi jurnal internasional, akan mudah salah pilih dan terjebak dalam penerbit jurnal predator ini. Padahal para peneliti bisa mempublikasikan artikel tersebut, di jurnal terindeks Scopus,” tandasnya.

Jika ragu-ragu, cara termudah dengan bertanya kepada kolega atau pustakawan terkait jurnal yang dimaksud, hingga mencari tahu tentang penerbit atau editorial board. Bila tidak yakin, bisa mencoba mengontak langsung, bila ada curiga pencatutan nama.

Sementara, reviewer jurnal ilmiah sekaligus Ketua Program studi Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) S2 UPGRIS, Dr. Harjito, M. Hum, menjelaskan Penilaian Angka Kredit (PAK) untuk kenaikan jafa, juga mempertimbangkan publikasi jurnal ilmiah.

“Sesuai dengan PO PAK 2019, untuk jabatan akademik asisten ahli dan lektor, diwajibkan publikasi jurnal nasional. Kemudian untuk lektor kepala/magister, publikasi di jurnal internasional, lektor kepala/doktor di jurnal nasional terakreditasi, sementara untuk profesor atau guru besar, di jurnal internasional bereputasi,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga memaparkan materi tentang kriteria jurnal dari jurnal nasional, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, dan jurnal internasional bereputasi, sekaligus bagaimana cara untuk mengecek keabsahan jurnal tersebut.

Wakil Rektor II UPGRIS, Dr. Maryanto, MSi, menambahkan, pihaknya berharap dengan semakin banyak dosen di perguruan tinggi tersebut, yang memiliki jafa tinggi, dapat mendorong terciptanya budaya akademik yang berkualitas.

“UPGRIS saat ini memiliki lebih dari 80 dosen yang bergelar doktor atau S3. Ini menjadi salah satu kekuatan akademik. Maka dengan kegiatan ini diharapkan memberi motivasi serta strategi agar dosen berhasil naik pangkat,” tegasnya.

Pelatihan tersebut diikuti oleh seluruh dosen dari berbagai program studi di lingkungan UPGRIS, yang telah memiliki jabatan fungsional Asisten Ahli (AA), Lektor (L) dan Lektor Kepala (LK).

Lihat juga...