Bangka Barat Perkuat Jaringan Pemasaran Produk UMKM

Perajin tenun di Mentok menyiapkan benang untuk proses pewarnaan. -Ant

MENTOK – Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyiapkan sejumlah rencana untuk memperkuat jaringan pemasaran berbagai produk kerajinan lokal, agar makin diminati pasar lokal dan nasional.

“Kami sedang menyiapkan rencana perluasan jaringan pemasaran, bekerja sama lintas sektor dan antardaerah untuk membantu para pelaku industri kerajinan, agar tahun depan bisa makin dikenal, sehingga produksi makin meningkat,” kata Kepala Bidang Industri Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Kabupaten Bangka Barat, Agus Setyadi di Mentok, Rabu (23/12/2020).

Menurut dia, penggencaran promosi dan pemasaran, baik melalui media sosial dan pameran, berbagai produk kerajinan lokal tersebut dilakukan untuk membantu para perajin yang pada tahun ini mengalami penurunan kapasitas produksi, dibandingkan tahun sebelumnya karena pandemi Covid-19.

“Dampak pandemi ini cukup berat, bahkan pada tahun ini kapasitas produksi berbagai barang kerajinan lokal mengalami penurunan sebesar 51 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 203.721 buah pada 2019 menjadi 99.556 buah,” katanya.

Ia menjelaskan, penurunan jumlah produksi barang kerajinan tersebut banyak dipengaruhi oleh menurunnya jumlah wisatawan yang datang ke daerah itu.

Selain itu, kata dia, daya beli masyarakat terhadap berbagai barang kerajinan, seperti barang anyaman dari rotan, bambu, rajutan, cor logam, mebel dan lainnya juga menurun.

“Masyarakat lebih memilih membeli kebutuhan pangan untuk memenuhi kebutuhan pokok harian selama pandemi,” ujarnya.

Meskipun secara kapasitas produksi mengalami penurunan hingga 51 persen, namun jika dilihat dari jumlah pelaku usaha kerajinan pada tahun ini mengalami penambahan sebanyak 31 usaha baru, dari 401 perajin pada 2019 menjadi 432 perajin pada 2020, dengan melibatkan 564 tenaga kerja.

“Untuk jenis usaha kerajinan juga bertambah dari 12 macam menjadi 17 jenis usaha, seperti industri kerajinan gipsum, daur ulang bahan bukan logam, alat tulis dan gambar, industri tanah liat atau keramik dan kerajinan ukiran, dengan nilai total produksi mencapai lebih dari Rp5,5 miliar selama setahun,” katanya. (Ant)

Lihat juga...