Banjir Rob jadi Momok Warga Kota Semarang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Meski tidak separah tahun-tahun sebelumnya, banjir rob masih menjadi momok bagi warga Kota Semarang. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir utara, seperti Tambaklorok, Bandarharjo, hingga Tugu. Bahkan, di jalan-jalan protokol tak luput dari genangan, terutama di kawasan pelabuhan dan sekitarnya. Rob atau banjir akibat air laut pasang yang menggenangi daratan, menjadi permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari muka air laut.

Di Semarang, banjir rob sudah terjadi cukup lama dan semakin parah, akibat adanya penurunan permukaan tanah sebab pemanasan suhu bumi. Hal tersebut ditambah dengan penyedotan air tanah sehingga muka tanah semakin turun, terutama di wilayah Semarang Utara.

Hal tersebut seperti diungkapkan, Sapi’i warga RT8 RW1 Bandarharjo Semarang Utara. Dirinya harus terus meninggikan pondasi rumahnya, jika tidak ingin air rob masuk.

“Kalau punya uang, langsung bikin pondasi rumah yang tinggi. Minimal 1,5 meter, biar bisa bertahan setidaknya 5-7 tahun. Kalau di bawah itu, pasti meninggikan lagi,” paparnya.

Beruntung langkah cepat dilakukan Pemkot Semarang, dengan membangun puluhan rumah pompa, untuk menyedot air yang masuk ke pemukiman warga, hingga jalan protokol. Rumah pompa tersebut, peruntukannya tidak hanya untuk rob, namun juga banjir akibat curah hujan tinggi.

“Sebelum Natal 2020 kemarin, wilayah RT 1 sampai terendam rob setinggi lutut orang dewasa, karena memang cuaca tidak bagus, hujan lebat. Selain itu, air pasang laut juga tinggi. Biasanya rob ini baru turun setelah berhari-hari, namun karena sudah dipasang pompa, bisa langsung disedot. Dua hari sudah surut,” terangnya sembari menunjukkan pompa air yang terpasang.

Pompa bantuan dari Pemkot Semarang tersebut, juga belum ada sebulan terpasang, untuk mengatasi persoalan rob di wilayah tersebut.

Di satu sisi, Sapi’i mengakui, bagi masyarakat Bandarharjo dan sekitarnya, banjir rob sudah bukan hal yang aneh lagi. Namun meski demikian dirinya berharap, suatu saat nanti banjir akibat naiknya air laut tersebut benar-benar terhenti.

“Kalau masyarakat di sini sudah biasa, namun kalau bisa hilang tentu lebih senang. Terutama bagi warga yang kurang mampu, sebab untuk membuat pondasi rumah tinggi, biayanya juga banyak,” tandasnya.

Terpisah, pakar hidrologi Undip, Prof. Nelwan, memaparkan penyebab banjir dan rob di Kota Semarang salah satunya akibat penurunan permukaan tanah terhadap air laut, sebab menipisnya air tanah.

“Untuk mengatasi penurunan tanah ini, salah satunya dengan sistem ground water recharge, dengan mengisi ulang air tanah. Caranya dengan mengalirkan air ke dalam tanah. Air hujan misalnya, bisa ditampung di suatu tempat lalu dimasukkan ke tanah. Jadi tidak semua air dialirkan melalui saluran dan sungai. Sebagian di antaranya lebih baik, diisikan kembali ke dalam tanah,” paparnya.

Sementara, Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, memaparkan dalam penanganan rob di wilayahnya, pihaknya telah berkomunikasi dengan Pemerintah Pusat untuk penyelesaian pembangunan sheet pile atau dinding vertikal penahan gelombang air laut.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, dijumpai di Semarang, Rabu (30/12/2020). Foto Arixc Ardana

“Khususnya untuk penanganan rob di wilayah Kelurahan Tanjung Mas dan Bandarharjo. Memang harus pakai sheet pile. Kami harap, penyelesaian pembangunan sheet pile bisa terealisasi pada 2021 mendatang,” jelasnya.

Tidak hanya itu, pembangunan sheet pile juga harus melihat rencana pembangunan tanggul laut. Pembangunan tanggul laut ini menjadi upaya penanganan rob jangka panjang. Sedangkan, pembangunan sheet pile harus segera terealisasi sebagai upaya penanganan rob jangka pendek.

“Anggaran untuk pembangunan sheet pile sekitar Rp 40 miliar. Pak Wali sudah berkomunikasi dengan Kemen PUPR. Kami akan dorong agar bisa segera terealisasi,” pungkasnya.

Lihat juga...