Banyak Industri Tahu di Bekasi Buang Limbah Langsung ke Sungai

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Banyak industri tahu dan tempe di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, membuang limbah langsung ke sungai tanpa memiliki instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Hal tersebut, membuat sejumlah kali di wilayah setempat mengalami pencemaran, salah satunya seperti pendangkalan jika terus dibiarkan.

Hal tersebut disinyalir minimnya kesadaran dari pelaku usaha terkait lingkungan atau memang tidak memiliki pemahaman terkait limbah dari pengolahan tahu atau tempe karena tidak pedulinya pemerintah daerah terutama tingkat kecamatan dan kelurahan hingga RT/RW, terkait hal tersebut.

“Banyak temuan kami, selama melakukan susur kali di beberapa lokasi di wilayah Kota Bekasi, menemukan industri tahu yang langsung membuang limbah melalui pipa khusus ke sungai tanpa diproses IPAL,” ungkap Maman Warman, tim Patroli Sungai bentukan Dinas LH Jabar, di Bekasi kepada Cendana News, Rabu (9/12/2020).

Maman Warman, tim Patroli Sungai bentukan LH Jabar, meminta perhatian pemerintah untuk turun memberi sosialisasi, tidak melakukan pembiaran, Rabu (9/12/2020). -Foto: M. Amin

Dikatakan temuan industri tahu yang membuang limbah langsung ke Kali tanpa proses IPAL sebelumnya seperti di Jatiranggon, Kecamatan Pondok Melati, di lokasi tersebut ada industri tahu sekala UKM yang berlokasi di satu RW langsung membuang limbah ke Kali Sunter.

Selanjutnya baru-baru ini, di  RT 05/12, Jalan Benda IV ada lima usaha tahu yang membuang limbah langsung ke Kali Cikeas. Dari sejumlah temuan itu, pelaku usaha ataupun pihak RT/RW mengaku tidak mempersoalkan dan tidak pernah mendapat sosialisasi.

“Saya melihat ini, ada pembiaran karena baik RT/RW tidak kooperatif melaporkan ke kelurahan terkait industri yang ada di lingkungannya. Begitu pun sebaliknya, seperti kelurahan dan kecamatan tidak peduli dengan turun langsung ke titik lingkungan untuk meninjau terkait kelengkapan izin industri yang ada di wilayahnya,” ungkap Kang Abel sapaan akrab pemerhati lingkungan ini.

Melihat kondisi yang ada, dia meminta pihak kelurahan, kecamatan hingga RT/RW bisa kooperatif duduk bersama membahas soal lingkungan. Karena lingkungan tidak hanya terkait banjir saja, seperti drainase, tapi industri skala rumah tangga yang berpotensi membuang limbah juga harusnya mendapat perhatian khusus.

Dia mengaku miris, saat ditemui sejumlah pelaku usaha tidak menyadari jika membuang limbah industri tahunya langsung ke sungai tidak dianggap bahaya.

Begitu pun RT/RW mengaku selama tidak ada yang komplain, artinya pemerintah melalui instansi terkait harus melakukan penyadaran bersama pentingnya menjaga lingkungan tidak hanya soal drainase bersih-bersih lingkungan tapi terkait hal industri yang ada di lingkungan.

Cendana News melihat langsung industri tahu di Kelurahan Jatirasa RT 05, terlihat aktivitas pengolahan tahu oleh salah satu pengusaha  tepat berada di tepi Kali Cikeas. Terlihat di belakang lokasi industrinya, beberapa pipa langsung tersambung dengan kali yang terus mengalirkan limbah tahu setiap waktunya.

Dikonfirmasi, Ketua RW setempat Beny mengakui bahwa di lokasinya ada lima pelaku usaha industri tahu. Semuanya membuang limbah ke Kali Cikeas, yang sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Bahkan diketahui ada yang beroperasi mengolah tahu sejak tahun 2011 silam dan telah membuang limbah di Kali Cikeas sejak pertama berproduksi.

“Saya sudah kumpulkan bahkan menghadirkan beberapa dinas ikut musyawarah terkait industri tahu di wilayah  RT 05, Jatirasa. Hasilnya, sudah diminta semua pelaku industri tahu segera membuat IPAL, kita lihat saja dalam beberapa hari ke depan,” tukas Beny.

Lihat juga...