Banyak Pengungsi Mandiri di Lembata Tersebar di Rumah Warga

Editor: Makmun Hidayat

LEWOLEBA — Jumlah pengungsi mandiri di Kelurahan Lewoleba Timur, Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai data terakhir tanggal 6 Desember 2020 jam 18.00 WITA berjumlah 2.712 pengungsi.

“Untuk di Kelurahan Lewoleba Timur tersebar di 245 rumah penampungan milik warga,” kata koordinator Posko Barakat di Kelurahan Lewoleba Timur, Kota Lewoleba, Benediktus Bedil saat dihubungi Cendana News, Selasa (8/12/2020).

Sedangkan pengungsi di posko-posko pemerintah hingga tanggal 6 Desember 2020 tercatat sebanyak 9.028 orang, sementara 612 orang sudah kembali ke kampung di mana dalam pemetaan pemerintah ditetapkan sebagai zona aman.

Ben sapaannya mengatakan, masih banyak pengungsi yang tersebar di rumah warga di kelurahan lain di Kota Lewoleba yang belum mereka lakukan pendataan secara terperinci.

Koordinator Posko Barakat di Kelurahan Lewoleba Timur, Benediktus Bedil saat dihubungi Selasa (8/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia menyebutkan, kelompok rentan di Kelurahan Lewoleba Timur berdasarkan data sementara sebanyak 546 orang dengan perincian lansia  357 orang, balita 152, ibu hamil 15 dan disabilitas ada 22 orang.

“Dari kunjungan Tim Posko Barakat dalam rangka mengidentifikasi kebutuhan pengungsi dan assessment lanjutan, kebutuhan para pengungsi adalah pangan, sanitasi, hunian dan kebutuhan non-pangan,” ungkapnya.

Ben menyebutkan, bantuan-bantuan dari para penyumbang berdatangan tetapi belum memperhitungkan jumlah pengungsi dalam satu rumah dan pembagiannya sama rata setiap rumahnya.

Padahal kata dia, dalam satu rumah ada yang menampung dari jumlah 20 orang hingga 87 pengungsi di Kelurahan Lewoleba Timur saja sehingga kebutuhan paling besar di rumah tangga penampung adalah beras.

“Dengan alokasi seorang membutuhkan beras 500 gram per hari maka kebutuhan beras 2.712 pengungsi pada 245 rumah di kelurahan Lewoleba Timur adalah 1.356 kilogram per hari,” tuturnya.

Ben tegaskan, selain beras, kebutuhan karbohidrat lainnya juga diperlukan seperti jagung dan sorgum dan sorgum harus mulai diperkenalkan kepada para pengungsi.

Dikatakannya, selain karena menjadi pangan alternatif yang kaya nutrisi, juga karena wilayah Ile Ape, asal pengungsi daerahnya cocok untuk budidaya sorgum sebagai tanaman pangan tahan kekeringan yang bakal dikembangkan pasca-bencana.

Ia melanjutkan, kebutuhan-kebutuhan pangan lainnya juga diperlukan terlebih untuk ibu hamil dan bayi balita dengan memperhatikan keseimbangan gizi yakni karbohidrat, protein dan vitamin.

“Total kebutuhan air untuk minum, makan, dan mandi sebesar 7,5 sampai 15 liter per hari per orang sesuai standar minimal. Pemenuhan air di rumah-rumah penginapan pengungsi sangat kurang,” ungkapnya.

Ben menjelaskan, kekurangan air ini terjadi selain karena ketersediaan air kurang, juga karena wadah penampung air terbatas dan hal ini bisa mendatangkan penyakit.

Ditambahkannya, lokasi pengungsian sedang diterpa hujan sejak tanggal 4 hingga tanggal 6 Desember 2020 sehingga kebutuhan akan terpal juga menjadi prioritas selain kebutuhan nonpangan seperti pempers dan pembalut wanita juga dibutuhkan.

“Bantuan yang masuk ke Posko Barakat kami langsung distribusikan ke rumah-rumah warga yang menampung para pengungsi sesuai dengan kebutuhan pengungsi,” ujarnya.

Anggota Komunitas Jalan Kaki (KJK) Maumere, Maria Yasinta Nenti yang ikut menyalurkan bantuan kepada pengungsi di rumah-rumah warga bersama petugas Posko Barakat mengaku kaget melihat banyak anak-anak di rumah warga.

Nenti sapaannya mengatakan, kebutuhan bagi difabel, lansia, bayi dan balita serta ibu hamil dan menyusui yang tergolong kelompok rentan sangat diperlukan apalagi saat musim hujan.

“Kita berharap kondisi para pengungsi di rumah-rumah warga tidak menderita sakit apalagi saat ini pun Kabupaten Lembata termasuk  zona merah karena ada puluhan pasien positif Covid-19,” ujarnya.

Lihat juga...