Banyumas Atasi Masalah Residu Sampah dengan Mesin Pirolisis

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Keberadaan mesin pirolisis yaitu mesin pembakar residu dengan suhu mencapai 900 derajat celcius diharapkan mampu menyelesaikan masalah residu sampah di Kabupaten Banyumas.

Bupati Banyumas, Achmad  Husein menyampaikan, dengan adanya pembakaran suhu tinggi, maka tidak akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Selain itu, mesin pirolisi ini juga dapat dipindah-pindah, sehingga memungkinkan untuk dipindah ke lokasi lain yang membutuhkan.

Bupati Banyumas, Achmad Husein di Purwokerto, Rabu (9/12/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

“Mesin ini cukup efektif menyelesaikan masalah residu sampah dan juga hemat, karena bisa digerakan, jadi satu mesin bisa dipergunakan ke beberapa tempat,” katanya, Rabu (9/12/2020).

Mesin pirolisis saat ini berada di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Mesin ini mempunyai kemampuan membakar residu hingga 1 kubik per jam.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Junaidi menjelaskan, pembakaran sampah yang tidak sempurna akan dapat mencemari lingkungan, karena sampah yang dibakar tidak maksimal mengandung furan dan dioksin. Namun, dengan menggunakan mesin pirilisis ini, furan dan dioksin yang dihasilkan sudah memenuhi standar baku mutu yang tidak lagi berbahaya untuk lingkungan.

“Sudah diuji coba dan dari hasil laboratorium, hasil pembakaran sudah memenuhi baku mutu yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup,” jelasnya.

Menurut Junaedi, sampah apa saja bisa masuk dalam mesin tersebut. Sehingga ke depan sampah di Kabupaten Banyumas sudah tidak lagi memiliki residu, karena semua habis dibakar.

Terlebih kondisi saat ini, masyarakat sudah terbiasa untuk memilah sampah. Sehingga sampah organik dapat dijadikan kompos dan untuk  sampah anorganik dapat dijual atau diolah sehingga memiliki nilai ekonomis.

Untuk melengkapi keberadaan mesin pirolisis ini, Pemkab Banyumas sebelumnya juga sudah memiliki dua alat pencacah sampah. Mesin pencacah ini digunakan sebelum sampai dimasukan dalam mesin pirolisis.

Alat pencacah tersebut menghasilkan refuse derived fuel (RDF), sampah campuran anorganik dengan komposisi 80 persen dan 20 persen sampah organik dan sampah organik dengan campuran 80 persen sampah organik dan 20 persen sampah anorganik.

“Tahun ini, kita juga menambah mesin pencacah dan pemilah sebanyak 9 unit. Mesin ini akan dibagi ke masing-masing hanggar. Selain itu, kita juga akan menambah 6 hanggar lagi, sehingga diharapkan masalah sampah bisa selesai,” ungkapnya.

Saat ini produksi sampai di Kabupaten Banyumas tercatat sebanyak 30 truk atau sekitar 7 kubik per hari.

Lihat juga...