Begini Bahaya Limbah Tahu Jika Langsung Dibuang ke Sungai

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Fenomena pembuangan limbah dari industri tahu di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, tanpa menggunakan  Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) mendapat tanggapan serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.

Kasi Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Irvan Hikmatullah, mengakui, saat ini tengah mengumpulkan data di lapangan untuk dilakukan penindakan dan pembinaan kepada para pelaku industri tahu. Tujuannya untuk memberikan kesadaran pentingnya IPAL dalam industri tahu meskipun skala kecil.

Irvan Hikmatullah, Kasi Pencemaran Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, saat dijumpai di kantornya, Rabu (16/12/2020) – Foto: Muhammad Amin

“Yang namanya limbah pasti bahaya. Meski itu limbah tahu, bahaya baik bagi manusia atau biota air. Terkait maraknya limbah tahu di Kota Bekasi terus dilakukan koordinasi,” tegas Irvan kepada Cendana News, Rabu (16/12/2020).

Dikatakan bahwa timnya sudah melakukan pengambilan sampel untuk diuji laboratorium terkait limbah tahu yang langsung dibuang ke sungai tanpa proses IPAL. Hasilnya memang membahayakan, terutama pada kadar PH yang tinggi dan bahaya jika langsung dibuang ke sungai. Jika kena kulit manusia maka bisa menimbulkan gatal. Begitu pun biota air pasti terganggu.

Hal lain imbuhnya, dari semua industri tahu dan tempe diketahui selama ini hanya mengantongi izin usaha atau Surat Keterangan Usaha (SKU). Tidak memiliki izin lingkungan sehingga tidak terkontrol terkait limbahnya.

Atas dasar tersebut, dinas sudah rapat dan merekomendasikan untuk survei kemudian memanggil pengusaha industri tahu ke kantor guna diberi pemahaman bahaya dan pentingnya membuat IPAL.

“Harus melalui konsultan yang peduli lingkungan sebenarnya, sehingga bisa maksimal. Tidak asal buat IPAL agar hasilnya maksimal. Tidak membahayakan lingkungan,” tukasnya.

Setelah diberi pemahaman, jika pengusaha industri tahu tetap membandel, tidak memperhatikan dampak lingkungan, maka tentu ada tindakan tegas oleh penegak hukum melalui Kasi Gakum. Oleh karenanya, Irvan mengimbau pelaku industri tahu dan tempe segera mengurus kelengkapan perizinan lingkungan.

“Pelaku industri tahu dan tempe harus memperhatikan pengelolaan limbah dengan baik, jika tidak maka akan ada tindakan hukum,” tandasnya.

Menurutnya, pengelolaan limbah yang dimaksud dengan membuat penampungan agar limbah tidak langsung dibuang ke sungai.

“Pastinya dalam waktu dekat kami juga akan ke beberapa lokasi industri guna memastikan. Karena industri tahu tersebut juga tentu ada pembakaran dalam produksi. Itu juga mengandung limbah. Dikemanakan limbah pembakaran itu sendiri harus diketahui,” pungkasnya.

Sementara, Kasi Gakum Lingkungan Hidup, Kota Bekasi, Ulfah, dikonfirmasi terpisah mengakui, sudah melakukan tinjauan ke beberapa lokasi produksi tahu di Kota Bekasi seperti di wilayah Pondok Melati. Dari tinjauan tersebut memang ditemukan industri tahu tersebut langsung membuang limbah ke sungai tanpa proses IPAL.

“Mereka membuat satu saluran, jadi memang rata-rata industri tahu di Kota Bekasi terpusat di satu tempat, mengelompok begitu. Mereka membuat satu saluran yang digunakan bersama untuk pembuangan limbah langsung ke sungai tanpa pengelolaan IPAL,” papar Ulfah, mengaku sudah melakukan pembinaan, dan diminta segera membuat IPAL.

Lihat juga...