Begini Cara Agus Membuat Bonsai Kelapa Jadi Lebih Unik

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Pohon kelapa selama ini dikenal sebagai tanaman yang memiliki ukuran cukup tinggi. Namun di tangan Agus Irwanto, warga Klayatan, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, pohon kelapa yang menjulang tersebut justru dijadikan sebagai tanaman bonsai dengan ukurannya yang mini. 

Agus menceritakan, sudah hampir dua tahun ini dirinya menekuni pembuatan bonsai kelapa. Menurutnya tanaman kelapa yang dibonsai memiliki penampilan yang unik dan eksotis.

“Selain karena ukurannya yang tidak bisa tinggi, bonsai kelapa ini bisa dibentuk sesuai dengan keinginan sehingga bisa terlihat semakin unik,” ujarnya saat ditemui Cendana News di rumahnya, Senin (14/12/2020).

Disampaikan Agus, ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam membuat bonsai kelapa. Langkah pertama yakni mencari bahan bonsai kelapa yang sepat atau kulit kelapanya sudah kering dan di dalam tempurung atau batoknya masih terdapat air kelapa.

Menurutnya, berbagai jenis kelapa sebenarnya bisa dipakai, namun dari sisi ukuran ia lebih memilih menggunakan kelapa gading, kelapa minion dan kelapa puyuh.

“Selanjutnya kupas kulit kelapanya dan biasanya kalau bahannya sudah benar-benar tua, akan terlihat ada tunasnya,” sebutnya.

Agus Irwanto dan Sugeng menunjukkan beberapa bonsai kelapa buatannya di rumahnya, Senin (14/12/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

Setelah keluar tunas, baru diproses dengan memberikan media air terlebih dahulu. Caranya bisa dengan menggunakan wadah botol besar air mineral yang telah diisi air yang bertujuan untuk membentuk pertumbuhan akar. Dalam media air, batok kelapa dibiarkan selama 2-3 bulan sampai keluar 1-2 daun.

“Proses ini nantinya yang akan menentukan bentuk bonsainya seperti apa. Apa mau dibuat posisi tegak berdiri, akar gurita atau akar yang mengelilingi batok, atau dibuat nungging jadi batoknya tetap di atas dan akarnya yang di bawah,” terangnya.

“Di sekitaran tunas itu kita sisakan sepet atau kulit kelapa yang boleh terkena air, supaya selain mendapatkan nutrisi dari dalam kelapa yang berupa air kelapa, kita bantu dengan media air,” imbuhnya.

Selanjutnya lakukan proses sayat mawar atau sayat pelepah yang membungkus daun muda sebagai proses pengerdilan daun agar tidak panjang. Setelah 2-3 bulan berada di air, dan pertumbuhan akar sudah cukup banya, maka batok kelapa bisa dipindahkan ke dalam campuran media tanah dan pupuk.

“Media yang saya pakai berupa campuran tanah, pasir, cocopit, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1: 1. Tujuannya supaya media tanamnya poros, sehingga tidak ada air penyiraman yang menggenang yang bisa menyebabkan terjadinya pembusukan,” ungkapnya.

“Kalau tanamannya sudah kerdil, pecah daun, pelepelahnya pendek, menurut saya itu sudah bisa dikatakan bonsai kelapa,” tandasnya.

Terkait perawatannya, bisa menggunakan pupuk alami dari air bekas cucian beras. Sedangkan untuk merangsang pertumbuhan akar bisa menggunakan bawang merah dan micin.

“Fungsi micin ini bagus untuk mengkilapkan daun. Jangan lupa juga batok kelapanya diamplas sampai halus baru kita pernis beberapa kali supaya tempurung atau batok kelapa tidak mudah pecah maupun retak terkena sinar matahari,” tuturnya.

Diakui Agus, seluruh proses pembuatan bonsai kelapa mulai dari awal sampai akhir, ia pelajari dari berbagai video yang ada di Youtube. Sedangkan untuk pemasaran, Agus biasanya memasarkannya secara online dan pada saat ada pameran.

“Hingga sekarang sudah lebih dari seratus bonsai kelapa yang sudah laku terjual. ” akunya, pernah kirim ke Madura, Sidoarjo, Mojokerto

Terkait harga bahan bonsai, Agus mematok harga mulai 20 ribu untuk yang baru keluar tunas dan 50 ribu untuk yang baru keluar daun. Kalau usianya sudah mencapai 3-4 bulan harganya 150 ribu ke atas. Tapi kalau sudah benar-benar jadi bonsai kelapa, harganya sekitar 350 ribu lebih.

“Harga bonsai kelapa ini tergantung usia dan karakter bonsainya,” ucapnya.

Bahan yang digunakan untuk membuat bonsai kelapa sebenarnya murah dan mudah didapatkan. Tapi yang membuatnya mahal adalah prosesnya yang memakan waktu cukup lama.

“Jadi modal yang paling penting untuk membuat bonsai kelapa adalah sabar dan telaten, karena prosesnya memang panjang dan lama,” ungkapnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan, saat ini di Indonesia sudah cukup banyak komunitas-komunitas pecinta bonsai kelapa, termasuk di daerah Malang. Karenanya, supaya bisa saling berbagi ilmu dengan sesama pecinta bonsai kelapa di sekitar tempat tinggalnya, Agus kemudian mendirikan komunitas bonsai kelapa ‘Klopa Klopo’.

Salah satu anggota komunitas Klopa Klopo, Sugeng, mengaku baru 1 tahun ini dirinya mulai tertarik mempelajari sekaligus membuat bonsai kelapa.

“Awalnya memang sama sekali tidak bisa membuat bonsai kelapa. Tapi setelah belajar, ternyata membuat bonsai itu mengasikkan karena tidak ribet, bisa disambi dan yang paling penting bisa menghasilkan,” pungkasnya.

Lihat juga...