‘Bukit Pematang Sunrise’ Spot Indah Nikmati Matahari Terbit

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Cahaya keperakan terpantul dari atas laut Selat Sunda dan laut Jawa kala sang surya menampakkan senyum. Perlahan sang surya beranjak dari peraduan terlihat dari gugusan pulau di Selat Sunda. Pulau Jawa yang menjadi penghalang sinar mulai terlihat bersama pulau Sangiang, pulau Prajurit, pulau Kandang Balak, dan Kandang Lunik.

Ardi Yanto, warga sekaligus pengelola destinasi wisata Bukit Pematang Sunrise menyebut, bukit tersebut sudah dikenal lama. Bagi warga yang berprofesi sebagai petani di perbukitan itu menikmati matahari terbit atau sunrise jadi hal biasa. Semenjak masa pandemi kerinduan masyarakat khususnya pemuda menikmati suasana alam terbuka juga semakin tinggi.

Bukit menghadap Selat Sunda tak jauh dari pelabuhan Bakauheni membuat view lebih menarik. Selain gugusan pulau Sangiang, ke arah pelabuhan Bakauheni view Menara Siger dan kapal-kapal ferry lalu lalang dengan suasana sirine berpadu.

Keindahan alam dan bentang alam pedesaan lengkap dengan pantai, perkampungan dan tambak, bak permadani tersaji.

“Baru sekitar sebulan ini kembali booming karena kerinduan masyarakat akan suasana alam perbukitan yang tersaji dari Bukit Pematang Sunrise. Sebetulnya banyak bukit yang indah di sini, namun pengelolaan hanya pada Bukit Pematang Sunrise atas seizin penggarap lahan untuk disulap menjadi spot wisata,” terang Ardi Yanto saat ditemui Cendana News, Minggu (6/12/2020).

Aksesibilitas destinasi Bukit Pematang Sunrise sebut Ardi Yanto, cukup mudah. Berjarak kurang lebih empat kilometer dari pelabuhan Bakauheni dan pintu keluar Jalan Tol Trans Sumatera, akses jalan beraspal cukup bagus. Pengunjung berkendaraan motor bisa sampai ke lokasi. Sementara bagi pengunjung memakai mobil bisa memarkirkan pada dusun Kayu Tabu.

Sebagai destinasi wisata yang masih baru dibuka Ardi Yanto menyebut, pembenahan terus dilakukan. Namun pengunjung terutama pehobi wisata alam mulai berkemah (camping) di lokasi itu. Membawa tenda, hammock dan peralatan berkemah, pehobi wisata petualangan kerap ramai datang terutama saat akhir pekan.

Aktivitas berkemah di Bukit Pematang Sunrise jadi aktivitas menyenangkan menikmati suasana perbukitan dan view Selat Sunda, Minggu (6/12/2020) – Foto: Henk Widi

“Masih gratis karena tahap pembenahan segala fasilitas agar nyaman, pemandangan alam sudah jadi atraksi yang menarik untuk melihat sunrise,” cetusnya.

Amenitas atau fasilitas pendukung sebutnya juga telah dibuat dengan adanya tempat duduk, rumah pohon. Sejumlah area parkir dan kebutuhan toilet bagi pengunjung terus dibenahi agar wisatawan betah. Keberadaan sejumlah pohon sebagai peneduh sengaja dipertahankan pemilik lahan menambah suasana keindahan Bukit Pematang Sunrise.

Bagi pecinta vlog dan fotografi menikmati suasana sunrise jadi hal paling ditunggu. Saat cuaca cerah sang surya bisa diabadikan menjadi karya video dan foto untuk diunggah pada akun media sosial.

Media sosial sebutnya ikut andil dalam mempromosikan potensi objek wisata kekinian yang kerap disukai anak-anak muda. Tak hanya sunrise, menikmati keindahan sepanjang hari jadi magnet ke Bukit Pematang Sunrise.

Sebagian warga sebutnya mendukung keberadaan objek wisata tersebut. Sebab peningkatan ekonomi berpotensi dirasakan bagi warga. Saat kunjungan mulai meningkat terutama diprediksi akhir tahun dan tahun baru, tiket akan diberlakukan. Warga bisa melalukan aktivitas berjualan makanan dan minuman ringan.

“Destinasi wisata tentunya tak hanya menjual keindahan, tapi juga kearifan lokal masyarakat misalnya sebagai petani yang ikut menghasilkan buah dan produk yang bisa dijual,” bebernya.

Hendrik, salah satu pehobi wisata petualangan mengaku, mengajak teman-temannya berkemah. Membawa sleeping bag dan peralatan masak ia memilih berkemah dua hari sebelumnya.

Ia mengaku ingin menikmati suasana alam di atas perbukitan. Berkemah selama tiga hari sebutnya menjadi waktu berburu foto terbaik saat matahari terbit. Sebab suasana setiap hari berbeda sesuai cuaca.

Warga melakukan pembenahan destinasi Bukit Pematang Sunrise dengan menyediakan meja dan kursi untuk kenyamanan pengunjung, Minggu (6/12/2020) – Foto: Henk Widi

“Saat hari pertama mendung sehingga pemandangan kurang bagus, mataharinya sudah tinggi baru kelihatan,” cetusnya.

Hari Minggu pagi meski sedikit berkabut ia memastikan bisa mendapatkan momen sunrise terbaik. Kepuasan batin dan menikmati udara sejuk perbukitan sebutnya jadi hal menyenangkan.

Terlebih saat penat dengan pekerjaan Bukit Pematang Sunrise bisa jadi rujukan. Ia juga berharap pembenahan dilakukan agar memberi kenyamanan dan layak untuk objek wisata yang ramai dikunjungi, termasuk dalam hal  keselamatan.

Lihat juga...