Buruh Serabutan Ini Tekuni Usaha Kerajinan Berbahan Koran Bekas

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Berawal dari iseng untuk mengisi waktu luang, seorang buruh serabutan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kini menekuni usaha kerajinan berbahan kertas bekas koran. Hasil karyanya berupa kotak tisu, asbak dan replika sepeda motor, cukup unik dan diminati.

M Yasin (50), warga Pasar Minggu, Jakarta, mengaku sudah 4 tahun menggeluti usaha kerajinan tangan membuat kotak tisu berbahan koran. Yasin yang saat ini bekerja sebagai buruh serabutan, bercerita awal mula dirinya menekuni usaha kotak tisu berbahan koran berawal dari melihat orang yang sedang membuat kerajinan tangan tersebut. Beberapa kali melihat proses cara pembuatannya, setelah paham dan mengerti dirinya praktik di rumah.

Kerajinan tangan ini tidak begitu banyak mengeluarkan biaya, karena bahan yang dipergunakan hanya berupa koran, lem, dan aneka macam warna glitter sebagai pemanis.

Kotak tisu, asbak, motor harley hasil karya M Yasin yang siap dijual., Selasa (8/12/2020). –Foto: M. Fahrizal

Untuk menghasilkan 1 boks tisu lengkap dengan penutupnya memerlukan seperempat kilogram koran bekas. Dirinya selalu stok koran sebanyak 3 kilogram yang didapat dari lapak. Dan, untuk 3 kilogram koran tersebut bisa menghasilkan 5 boks tisu.

“Kalau ditanya modal awalnya, ya kurang lebih Rp100 ribu, itu juga untuk membeli koran bekas di lapak dan membeli keperluan tambahan lainnya. Biasanya, koran minta sama tetangga, namun sekarang beli di lapak, karena sekarang sudah jarang orang-orang yang berlangganan atau memiliki koran di rumah,” kata Yasin, saat ditemui di kediamannya, Selasa (8/12/2020).

Dikatakan Yasin, untuk menghasilkan 1 boks tisu memakan waktu dua setengah hari. Kalau hanya proses pembuatan boks saja tanpa motif atau polos hanya sehari. Adanya motif membuat dua kali dalam proses pembuatannya.

Yasin memberikan harga jual Rp125 ribu per buah. Pembuatan boks tisu dari koran sebelumnya dibuat sesuai pesanan, namun sekarang ini, terlebih pekerjaan serabutan yang dirinya lakukan tiap hari sudah jarang, pada akhirnya dia memutuskan untuk fokus membuat boks tisu.

Boks tisu ditawarkan ke tetangga-tetangga terdekat maupun saudara. Proses pembuatannya terbilang rumit, dimulai dari melinting atau menggulung kertas koran dengan berbeda-beda ukuran, baik untuk menjadi bahan dasar maupun untuk tambahan motif.

“Diperlukan ketelitian dalam proses pembuatan kotak tisu. Ketika potongannya tidak pas, hasilnya akan miring. Jadi, memang harus benar-benar pas,” katanya.

Menurutnya, dibandingkan yang lain kotak tisu paling rumit dalam proses pembuatannya. Itu semua ada ukuran jumlah batang koran yang sudah dilinting atau digulung.

“Selain kotak tisu, ada juga asbak, motor-motoran, perahu layar, tempat pensil, hingga ada yang minta dibuatkan pesawat sesuai model yang diinginkan. Kalau saya mampu, saya kerjakan. Kalau tidak mampu saya bilang tidak mampu, tapi alhamdulillah sejauh ini saya bisa kerjakan semua,” katanya.

Yasin menambahkan, dirinya lebih fokus membuat kotak tisu karena banyak dipergunakan semua orang, di rumah, restoran, hingga perkantoran. Dan, untuk barang hasil karya dirinya tidak ada tambahan vernis sebagai penguat, justru lem fox yang menjadi vernis karena lebih kuat dan lebih tahan air.

“Murni berbahan koran tanpa ada campuran material lain. Saya jamin kuat sampai tahunan,” ungkapnya.

Yasin mengatakan lagi, banyak yang belum mengetahui hasil karyanya, karena kurangnya pemasaran. Dirinya yakin, jika sebelumnya ada yang memasarkan, sudah barang tentu akan banyak yang melakukan order.

“Mungkin dulu karena iseng kali ya, buat isi waktu luang, makanya banyak yang kaga tau. Untuk sekarang ini, ya baru sebatas kotak tisu yang saya perkenalkan ke orang-orang. Karang Taruna RW pernah minta saya untuk mengajarkan atau berbagi ilmu yang saya miliki, namun dari pihak Karang Taruna baru sebatas wacana saja, belum ada kepastian,” ucapnya.

Yasin mengungkapkan, jika kotak tisu yang dibuatnya tidak bisa dikatakan cukup untuk menutupi kesehariannya, karena masalah pemasaran yang sangat minim, baru sebatas dari mulut ke mulut.

“Keinginan banyak, namun modal yang belum ada. Kalau ada modal, saya ingin banget ke Bali, jualan atau buka usaha di Bali karena saya lihat di Youtube ada yang jual kotak tisu, tetapi polosan tidak memiliki motif, Dan, harga jualnya juga tinggi, makanya saya pengen banget ke Bali buat jualan,” ucapnya, mengakhiri pembicaraan.

Lihat juga...