Cangkul tak Lagi Sering Digunakan Petani di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Para petani jagung di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kini tak lagi banyak menggunakan cangkul untuk mengolah lahan. Mereka lebih memilih menggunakan traktor, karena dinilai lebih efisien waktu dan biaya.

“Sekarang kami tidak menggunakan cangkul lagi dalam mengolah lahan, sebab harus melibatkan banyak orang dan membutuhkan biaya yang sama,” kata Koleta Peta, salah seorang petani jagung Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, saat ditemui Cendana News di lahan jagungnya di Desa Habi, Senin (14/12/2020).

Koleta mengatakan, bila setelah dibersihkan pengolahan lahan harus menggunakan cangkul, maka pemilik lahan harus menyiapkan makanan dan minumam minimal dua kali sehari bagi para pekerja tersebut.

Fransia Nona, petani jagung di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di lahan jagung miliknya di desa tersebut, Senin (14/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia menjelaskan, bila harus membayar tenaga kerja, maka dibutuhkan minimal 4 orang dan pemilik lahan juga dapat menyiapkan makanan dan minuman tergantung kesepakatan dengan para pekerja.

“Kalau bayar pekerja, kami juga harus menyiapkan makanan dan minuman minimal 2 kali sehari. Tapi semua tergantung kesepakatan dengan pekerja, sebab bila tidak menyiapkannya upah yang lebih besar,” ucapnya.

Koleta menyebutkan, petani lebih memilih membayar traktor untuk membajak lahan jagung miliknya, yang hanya mengeluarkan biaya Rp300 ribu dan dalam beberapa jam lahan sudah  selesai dibajak.

Hal senada juga disampaikan Fransia Nona, petani jagung di Desa Habi yang mengaku mengeluarkan biaya sewa traktor Rp350, guna membajak lahan jagung milik orang yang digarapnya.

Fransia mengaku hanya membayar tenaga kerja sebanyak 3 orang untuk membersihkan rerumputan yang tumbuh, setelah jagung tumbuh sekitar 3 minggu atau sebulan dengan mengeluarkan dana Rp30 ribu per orang.

“Untuk membersihkan rumput, saya membayar tenaga kerja Rp30 ribu per orang selama sehari. Saya juga menyiapkan makanan dan minumam untuk pagi, siang dan sore hari,” terangnya.

Sementara itu, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Swadaya Desa Langir, Kecamatan Kangae, Ignatius Iking, menyebutkan untuk biaya sewa traktor milik Dinas Pertanian Kabupaten Sikka per meter persegi sebesar Rp85.000

Iking mengatakan, untuk lahan seluas satu hektare dibutuhkan biaya sewa traktor sebesar Rp850 ribu, namun banyak petani tidak memiliki lahan dengan luas di atas satu hektare, sehingga biayanya disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki.

“Sekarang ini para petani lebih memilih cara praktis membayar traktor untuk mengolah lahan. Sudah jarang sekali melihat petani menggunakan cangkul dalam mengolah lahan,” terangnya.

Iking menambahkan, traktor jarang digunakan untuk lahan pertanian yang berada di perbukitan dan tidak ada akses jalan untuk dilewati traktor, sehingga penggunaan cangkul oleh petani masih banyak dijumpai.

Lihat juga...