Corona di Semarang Meningkat, Masyarakat Perlu Disiplin Prokes

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Angka covid-19 di Kota Semarang masih menunjukkan tren peningkatan, meski secara keseluruhan ibu kota Provinsi Jateng tersebut masih zona oranye. Namun, jika kenaikan tersebut tidak segera diatasi, bisa jadi wilayah tersebut kembali menjadi zona merah.

“Penanganan covid-19 tetap menjadi prioritas tertinggi Pemkot Semarang. Apalagi kalau kita lihat, ada kecenderungan kenaikan. Mudah-mudahan jangan naik lagi. Kita melihat ini karena masyarakat agak kendor menerapkan protokol kesehatan (prokes). Mereka mengira covid-19 sudah selesai. Untuk itu perlu kita ingatkan kembali, agar masyarakat terus berdisiplin,” papar Walikota Semarang, Hendrar Prihadi dijumpai di Semarang, Jumat (11/12/2020).

Berdasarkan data siagacorona.semarangkota.go.id per hari Jumat (11/12/2020) pukul 17.00 WIB, jumlah kasus aktif covid-19 mencapai 782. Angka tersebut bertambah, dibanding sehari sebelumnya, Kamis (10/12/2020) sebanyak 674 kasus.

“Saya ingin masyarakat paham, bahwa covid-19 masih ada di sekitar kita. Siapa pun bisa kena. Jika merasa dirinya sehat dan kuat, kemudian tidak disiplin prokes, ternyata dia masuk kategori orang tanpa gejala (OTG), ketemu banyak orang, keluarganya. Ini tentu berbahaya, jadi tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun juga orang-orang di sekelilingnya,” papar Hendi, panggilan akrabnya, yang juga penyintas covid-19 tersebut.

Pihaknya pun berharap, masyarakat bisa melihat kasus yang pernah menimpanya, meski sudah ketat dalam penerapan prokes, dirinya pernah dinyatakan positif. Apalagi jika masyarakat tidak disiplin, tentu akan relatif lebih mudah terpapar.

“Kita akan melihat seluruh aspek. Termasuk rencana sekolah dengan pembelajaran tatap muka (PTM). Sementara, kemarin ini ada kasus klaster covid-19 di salah satu SMK di Kota Semarang. Temuan tersebut tentu menjadi bahan pembahasan ke depan. Ini harus di-review lagi, jadi introspeksi bagaimana menekan angka agar turun. Saya lihat klaster keluarga turun, pindah ke pendidikan,” terangnya.

Pada klaster pendidikan tersebut, ada setidaknya 179 siswa yang dinyatakan positif covid-19 dan saat ini masih menjalani proses karantina. “Kami harapkan harus hati-hati. Di beberapa sektor perlu dilakukan pengetatan lagi,” tambahnya.

Termasuk, pasca penyelenggaraan Pilkada 2020,  di Kota Semarang yang menggelar Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwakot). Pihaknya berharap tidak muncul klaster baru dari pesta demokrasi tersebut.

“Mudah-mudahan tidak ada, sebab pelaksanaan Pilwakot sudah menerapkan protokol kesehatan secara baik. Masyarakat juga tidak berkerumun, pemilih sudah diberi jadwal kedatangan, agar tidak terjadi penumpukan di TPS. Termasuk kesiapan alat pelindung diri (APD) yang digunakan,” lanjutnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang Abdul Hakam, juga menyampaikan hal senada. Ketidakdisiplinan masyarakat dalam penerapan prokes, disinyalir menjadi penyebab meningkatnya angka covid-19 di Kota Semarang.

“Kita tidak henti-henti mengingatkan dan sosialisasikan prokes kepada masyarakat. Termasuk seluruh petugas Puskesmas kita turunkan, untuk mengedukasi masyarakat. Ayo disiplin dalam penerapan prokes,” terangnya.

Di satu sisi, terkait penerapan prokes dalam pelaksanaan Pilwakot Semarang 2020, dirinya melihat semuanya sudah tertib. Termasuk dari petugas dan masyarakat. Mereka disiplin dalam memakai masker, menjaga jarak, hingga mencuci tangan.

“Sampai hari ini, tidak ada laporan terkait munculnya covid-19 dari pelaksanaan Pilwakot. Terlebih seluruh petugas yang terlibat dalam pelaksanaan, sudah di-rapid hingga swab, untuk memastikan mereka dalam kondisi sehat dan tidak terpapar covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...