Dampak Erupsi Gunung Ile Lewotolok, Abu Menyebar ke Berbagai Wilayah

Editor: Makmun Hidayat

LEWOLEBA – Dampak erupsi Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan material erupsi berupa abu, kerikil dan bebatuan menyebar di berbagai wilayah.

Kerikil tersebar di beberapa desa di dekat kawah gunung api tersebut termasuk juga bebatuan, sementara abu vulkanik terbawa angin hingga ke Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata bahkan ke Pulau Adonara dan beberapa wilayah di Kabupaten Flores Timur.

“Dampak erupsi ini, percikan bebatuan tersebar hampir di sebagian wilayah bagian utara Gunung Api Ile Lewotolok dan menimpa rumah warga,” kata Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, saat dihubungi Cendana News, Rabu (9/12/2020).

Thomas menjelaskan, kerikil dan bebatuan kecil tersebar di lereng gunung  tetapi yang paling dahsyat abu vulkaniknya menyebar di hampir sebagian wilayah kecamatan di sekitar gunung api hingga ke Kota Lewoleba dan di Pulau Adonara serta Flores Timur daratan.

Disebutkannya, masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi sudah menganggap kejadian ini hal yang biasa.

Dia menambahkan, masyarakat tidak mau dievakuasi di mana tahun 2017 juga saat ada  erupsi, pemerintah sudah menyiapkan lahan pemukiman baru tetapi warga tidak mau menempati.

“Warga seakan sudah menyatu dengan alam dan gunung berapi ini dan selalu membuat ritual adat termasuk pesta kacang. Sejak Juli hingga Oktober diadakan ritual adat pesta kacang di gunung dan hanya di Lamariang saja yang terjadi bulan November dan diadakan di pantai,” ungkapnya.

Thomas mengtakan, sebelumnya juga di bulan Agustus 2020 lalu terjadi kebakaran besar di lereng gunung Ile Lewotolok dan memang sampai saat ini tidak ada informasi kebakaran yang terjadi berasal dari mana.

“Kami di Lembata ini sumber panas alamiah banyak yang bisa menimbulkan api dan terjadinya kebakaran. Kebakaran di lereng gunung Ile Lewotolok yang menghanguskan rumah adat pun tidak diketahui asal apinya dari mana,” ucapnya.

Koordinator Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Ugan Boyson Saing saat ditanyai menyebutkan, pihaknya telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi terkait status siaga gunung api ini.

Koordinator Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Ugan Boyson Saing saat ditemui di pos pemantau di Desa Laranwutun, Kamis (3/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ugan mengatakan, masyarakat di sekitar Gunung Api Ile Lewotolok maupun pengunjung, pendaki atau wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 4 kilometer dari kawah puncak.

“Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada di sekitar Gunung Ili Lewotolok agar mengenakan masker dan pelindung mata atau kaca mata,” pesannya.

Selain itu kata Ugan, mengingat saat ini sedang musim hujan maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai atau kali mati di sekitar Gunung Ile Lewotolok agar mewaspadai potensi ancaman bahaya lahar dingin.

Ie meminta agar segenap pihak tetap menjaga situasi kondusif di  Lembata dengan tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya.

“Pemerintah daerah, BPBD provinsi dan kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pemantau Gunung Api Ile  Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ili Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung,” pesannya.

Lihat juga...