Demplot Peternakan Sapi Mandirikan Warga Desa Argomulyo

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Selain menurunkan angka kemiskinan dan menumbuhkan ratusan pelaku usaha baru, Desa Cerdas Mandiri Lestari di desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, juga melahirkan belasan peternak sapi dan memandirikannya. Dari semula tak memiliki hewan ternak, warga binaan menjadi memiliki hewan ternak yang produktif dan meningkatkan penghasilannya.

Bersamaan dengan pembangunan perekonomian desa melalui sektor pariwisata dan usaha mikro kecil menengah, Yayasan Damandiri melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari di Argomulyo juga menggarap sektor pertanian dan peternakan.

Ketua sekaligus Manajer Umum Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo, Gatot Nugroho, menjelaskan, pada 2017 telah diluncurkan program bantuan pembibitan sapi dengan membuat demplot peternakan di dusun Kaliberot, Argomulyo. Kelompok Ternak Ngudi Rejeki ditunjuk sebagai pelaksana program, di bawah pendampingan koperasi.

Baca: Jumlah UMKM di Argomulyo Melonjak Tajam

“Sebanyak 15 ekor sapi indukan dengan total anggaran Rp180juta disalurkan untuk dikelola para peternak tersebut. Selama kurang lebih 4 tahun berjalan, hingga 2020 ini program demplot usaha ternak sapi berkembang pesat. Sebelas ekor sapi sudah bunting dan melahirkan anakan,” kata Gatot.

Sementara Ketua Poknak Ngudi Rejeki, Rakimin, pada Rabu (26/2), mengungkapkan, bahwa saat ini total jumlah ternak yang ada sebanyak 18 ekor. Pasalnya, dari 15 bantuan sapi indukan, beberapa waktu lalu terdapat 1 ekor sapi mengalami sakit parah, sehingga akhirnya harus dipotong.

“Sesuai kesepakatan dengan pihak koperasi dan yayasan, setiap anakan yang lahir bisa dijual oleh peternak. Nanti hasilnya dibagi antara peternak dan koperasi. Untuk anakan pertama, hasilnya 80 persen untuk peternak dan 20 persen untuk koperasi. Sedangkan untuk anakan ke dua, 70 persen untuk peternak dan 30 persen untuk koperasi,” ungkap Rakimin.

Menurut Rakimin, dengan sistem bagi hasil ini para peternak di desa Argomulyo jelas lebih diuntungkan. Pasalnya, satu ekor anakan sapi betina umur 2-3 bulan harganya bisa mencapai Rp7-8 juta. Sementara untuk anakan jantan harga jualnya bisa lebih tinggi, mencapai Rp9-10juta tergantung kondisi ternak.

“Biasanya jika lahir, para peternak akan membeli sendiri anakan tersebut. Sehingga mereka bisa punya anakan sapi secara pribadi sepenuhnya. Bisa untuk tabungan, jika sewaktu-waktu butuh biaya atau keperluan bisa dijual,” ungkapnya.

Upaya pemberdayaan melalui sektor peternakan tersebut, saat ini juga makin berkembang dengan adanya pengolahan limbah kotoran sapi untuk dijadikan pupuk. Pinjaman modal sebesar Rp30 juta diberikan melalui koperasi, untuk melengkapi fasilitas dan peralatan pengolahan pupuk. Meski masih baru, Poknak Ngudi Rejeki mampu memproduksi pupuk kandang sebanyak dua ton per hari. Adanya unit usaha pengolahan pupuk ini, pun makin menambah penghasilan para peternak binaan Damandiri di Argomulyo.

Lihat juga...